Aksi Car Free Day Perempuan untuk Perdamaian, Tekankan Pentingnya Peran Perempuan Wujudkan Kerukunan

Surakarta – Perdamaian menjadi salah satu yang harus disuarakan karena banyaknya perbedaan di sekitar kita. Apalagi Indonesia yang kaya akan keberagaman mulai dari suku, budaya atau agama maupun keyakinan lainnya. Perbedaan agama dan keyakinan seyogianya tidak menjadi alasan timbulnya konflik. Yang harus ditekankan adalah pentingnya untuk saling menghormati antar umat beragama yang dianut oleh masing-masing individu.

Inilah yang mendasari Yayasan Kakak berkolaborasi dengan perempuan lintas agama mengadakan aksi Car Free Day dengan tema “Perempuan Untuk Perdamaian”. Aksi ini dilakukan
pada pukul 06.00 – 09.00 di Jalan Slamet Riyadi, tepatnya di depan Loji Gandrung, Minggu (25/06/2023).

Direktur Yayasan Kakak, Shoim Sahriyati mengatakan kelompok perempuan
memiliki potensi yang besar dalam mengembangkan harmoni dan kerukunan umat beragama dan berkeyakinan. Aksi ini, lanjut Shoim, untuk mengajak dan menyadarkan peran dan potensi perempuan untuk mengembangkan sikap, cara pandang dan praktik beragama yang mengedepankan nilai penghargaan dan penghormatan pada orang lain.

“Seorang ibu (perempuan) dalam keluarga menjadi role model bagi anak-anak mereka sehingga anak akan mengembangkan hal yang sama. Selain itu, perempuan juga memiliki kelompok komunitas atau organisasi yang mereka bisa menekankan nilai penghormatan dan penghargaan sehingga menjadi sebuah pembiasaan,” ungkap Shoim.

Salah satu perwakilan dari Jamaah Muhajirin khususnya komunitas jumat berkah, Eri menyambut baik adanya kegiatan ini. “Kami merasa senang bisa
merasakan kerukunan, dengan perbedaan yang ada dan dengan kegiatan ini secara bersama-sama membuat bahagia,” ucap Eri.

Sementara menurut Sulastrini, perwakilan dari Penghayat, kegiatan ini membuktikan kepada khalayak umum bahwa peran perempuan sangatlah penting dalam mewujudkan perdamaian antar umat beragama dan berkeyakinan. “Wujud nyata dan aksi nyata sekecil apapun dapat dilakukan perempuan dalam mewujudkan perdamaian antar umat beragama. Gerakan berbagi sayur ini tidak melihat latar belakang agama dan kepercayaan,” ungkap Sulastrini. (isn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *