Bimbel Juara Bunda Tawarkan Pembelajaran Fleksibel, Jumlah Siswa Tembus Ratusan

Boyolali — Kebutuhan pendidikan tambahan di luar sekolah terus meningkat, termasuk di wilayah pinggiran. Menjawab hal tersebut, bimbingan belajar (bimbel) Juara Bunda hadir dengan konsep pembelajaran fleksibel yang menyesuaikan kebutuhan siswa dan orang tua.

Didirikan oleh tiga guru, yakni Galuh Anggraeny, Erwin Kurnia, dan Rielo Pambudhi, bimbel ini mulai berjalan sejak Maret 2025. Saat ini, Juara Bunda telah memiliki dua lokasi belajar, yakni di Dusun Tambas, Kelurahan Kismoyoso, Ngemplak, Boyolali, dan kawasan Banyuanyar, Kota Solo.

Salah satu pendiri Juara Bunda, Galuh Anggraeny, mengatakan fleksibilitas menjadi konsep utama yang diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar.

“Kami sangat fleksibel terhadap kebutuhan anak dan permintaan orang tua, baik dari sisi materi maupun metode pembelajaran. Untuk kelas dasar seperti baca, tulis, dan hitung, bisa menyesuaikan dengan materi sekolah atau menggunakan modul dari kami,” ujar Galuh.

Selain materi, sistem pembelajaran juga dibuat variatif. Siswa dapat memilih kelas privat maupun kelompok dengan jadwal yang dapat disesuaikan, mulai dari satu hingga tiga kali per minggu.

Perkembangan Juara Bunda terbilang cukup pesat. Dalam waktu kurang dari satu tahun, jumlah siswa yang bergabung mencapai lebih dari 150 anak. Namun, pertumbuhan tersebut juga diiringi dengan sejumlah tantangan, terutama dalam pengelolaan kelas dan tenaga pengajar.

“Di awal kami sempat kewalahan karena jumlah siswa yang meningkat cukup cepat. Selain itu, ada juga kendala seperti penyesuaian karakter antara siswa dan tentor serta administrasi yang belum tertata,” jelasnya.

Meski demikian, pihaknya terus melakukan pembenahan, baik dari sisi manajemen maupun komunikasi dengan orang tua siswa, agar kualitas pembelajaran tetap terjaga.

Dalam perekrutan tenaga pengajar, Juara Bunda tidak hanya mempertimbangkan kemampuan akademik, tetapi juga pendekatan kepada anak. Calon tentor diharapkan memiliki ketertarikan pada dunia anak dan mampu berkomunikasi dengan baik.

Dari sisi biaya, bimbel ini juga menerapkan sistem pembayaran yang fleksibel. Orang tua dapat memilih pembayaran per pertemuan maupun bulanan, sesuai dengan kebutuhan.

“Kami ingin bimbel ini bisa diakses oleh masyarakat luas, terutama di wilayah pedesaan, karena itu, awal berdiri kami juga memberikan program bimbel gratis selama satu hingga dua bulan untuk menarik minat masyarakat,” imbuh Galuh.

Ke depan, Juara Bunda menargetkan pengembangan sistem pembelajaran yang lebih terstruktur, termasuk penyusunan modul sendiri pada tahun ajaran baru.

Dengan konsep yang fleksibel dan dekat dengan masyarakat, Juara Bunda diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif dalam mendukung pendidikan anak, baik di desa maupun di perkotaan.

Scroll to Top