Kenali Saraf Kejepit, Dokter RS UNS Jelaskan Gejala hingga Pilihan Terapi

Solo – Rasa nyeri tajam yang menjalar, sensasi kesemutan, hingga mati rasa pada leher belakang atau punggung bawah kerap dianggap sebagai pegal biasa. Padahal, keluhan tersebut bisa menjadi tanda adanya saraf kejepit, sebuah kondisi medis yang perlu mendapat perhatian serius.

Dokter Spesialis Neurologi Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, dr. Faris Khairuddin Syah, Sp.N., menjelaskan bahwa saraf kejepit dalam istilah medis dikenal sebagai radikulopati. Kondisi ini terjadi ketika akar saraf yang keluar dari tulang belakang mengalami tekanan atau iritasi.

“Saraf kejepit ibarat kabel listrik yang terhimpit benda berat, sehingga aliran sinyal saraf menjadi terganggu dan menimbulkan nyeri atau kesemutan,” ujar dr. Faris, seperti dikutip dari rs.uns.ac.id, Kamis (29/1/2026).

Ia menjelaskan, tulang belakang manusia tersusun atas 33 tulang vertebra yang dihubungkan oleh cakram intervertebralis. Cakram ini berfungsi sebagai bantalan peredam guncangan sekaligus menjaga fleksibilitas tulang belakang. Dari sumsum tulang belakang, terdapat 31 pasang akar saraf yang keluar melalui celah kecil bernama foramen intervertebralis.

Saraf kejepit terjadi ketika celah tersebut menyempit atau tertekan oleh struktur di sekitarnya, seperti cakram yang menonjol, pertumbuhan tulang, otot, maupun jaringan tendon. Lokasi saraf kejepit dapat terjadi di area leher (servikal), punggung atas atau tengah (toraks), serta punggung bawah (lumbal). Kasus terbanyak ditemukan pada area leher dan punggung bawah, dengan nyeri yang dapat menjalar hingga tangan atau kaki.

Untuk memastikan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, menelusuri riwayat medis pasien, serta pemeriksaan penunjang seperti Elektroneuromiografi (ENMG). Selain itu, pemeriksaan pencitraan menggunakan MRI atau CT scan juga diperlukan untuk melihat kondisi saraf dan jaringan di sekitarnya secara detail.

Terkait penyebab, dr. Faris menyebutkan bahwa saraf kejepit dapat dipicu oleh berbagai faktor. Di antaranya adalah proses degeneratif akibat penuaan, herniasi diskus atau penonjolan cakram tulang belakang, taji tulang (bone spurs), penyempitan kanal tulang belakang (stenosis), artritis, serta kondisi spondilolistesis.

“Faktor gaya hidup juga berpengaruh, seperti postur tubuh yang tidak ideal, aktivitas fisik dengan gerakan berlebihan, obesitas, hingga penyakit seperti Diabetes Mellitus. Cedera akibat kecelakaan atau jatuh juga bisa menjadi pemicu,” jelasnya.

Gejala saraf kejepit dapat muncul dalam jangka pendek maupun panjang dan umumnya memburuk saat melakukan gerakan tertentu. Selain nyeri, gejala lain yang sering menyertai adalah mati rasa, kesemutan, melemahnya kekuatan otot, serta menurunnya refleks tubuh pada area yang terdampak.

Dalam hal penanganan, sebagian besar kasus saraf kejepit dapat ditangani tanpa tindakan operasi. Terapi konservatif menjadi pilihan utama, seperti mengistirahatkan area yang sakit dan menghindari aktivitas pemicu. Namun, dr. Faris menegaskan bahwa istirahat total di tempat tidur dalam waktu lama justru tidak dianjurkan.

“Aktivitas ringan dan latihan fisik terkontrol tetap diperlukan agar proses pemulihan berjalan optimal,” ujarnya.

Pilihan terapi lain meliputi kompres dingin pada fase awal nyeri untuk menekan peradangan, yang kemudian dilanjutkan dengan kompres hangat untuk melancarkan sirkulasi darah dan merelaksasi otot. Selain itu, terapi obat-obatan seperti anti nyeri, perelaksasi otot, obat anti-kejang, hingga kortikosteroid dapat diberikan sesuai resep dokter.

Fisioterapi juga berperan penting dalam memperkuat otot, meningkatkan kelenturan, serta mengurangi tekanan pada saraf. Pada kondisi tertentu, suntikan steroid epidural dapat dilakukan jika terapi konservatif belum memberikan hasil optimal.

Mengacu pada literatur Mayo Clinic, tindakan pembedahan dipertimbangkan apabila nyeri tidak membaik setelah beberapa bulan terapi konservatif. Operasi juga menjadi pilihan jika ditemukan kelemahan anggota gerak atau gangguan buang air kecil dan besar akibat tekanan saraf.

“Dengan penanganan medis dan rehabilitasi yang tepat, pemulihan sangat mungkin terjadi. Jangan biarkan saraf kejepit membatasi kualitas hidup. Konsultasikan keluhan Anda ke Poli Saraf RS UNS untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan akurat,” pungkas dr. Faris.

Scroll to Top