Solo – Wali Kota Surakarta menghadiri kegiatan sosialisasi dan peningkatan kapasitas pengelolaan obat bebas (OB) dan obat bebas terbatas (OBT) bagi tenaga pendukung kesehatan di Kota Surakarta. Kegiatan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan dari sektor kesehatan, industri, hingga organisasi profesi.
Sejumlah pejabat yang hadir di antaranya Direktur Pengelolaan dan Perubahan Informasi Kegugasan RI Agustini Sabtaningsi, Direktur Pengawasan Distribusi dan Pelayanan Kefarmasian RI Arief Bisono, serta perwakilan sektor industri dan organisasi terkait lainnya.
Dalam sambutannya, Wali Kota menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut dan menyambut para peserta yang hadir di Kota Surakarta. Ia menegaskan bahwa penguatan kapasitas tenaga kesehatan, khususnya dalam pengelolaan obat bebas dan obat bebas terbatas, menjadi hal yang krusial karena bersentuhan langsung dengan masyarakat.
“Pengelolaan obat bebas dan obat bebas terbatas merupakan isu penting karena berdampak langsung pada kondisi sosial masyarakat. Peran tenaga penjual, khususnya di sektor retail, menjadi garda terdepan dalam mencegah penyalahgunaan obat,” tegasnya.
Wali Kota juga menyoroti potensi penyalahgunaan obat di kalangan remaja. Ia mengungkapkan, berdasarkan pengalaman penanganan kerusuhan pada Agustus 2025, ditemukan adanya penggunaan obat-obatan yang dicampur alkohol untuk memicu keberanian melakukan tindakan anarkis.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan perlunya kewaspadaan tinggi serta kepedulian dari seluruh pihak, khususnya tenaga penjual obat, agar tidak sembarangan dalam mendistribusikan obat-obatan yang berpotensi disalahgunakan.
Selain itu, ia menekankan bahwa dampak gangguan sosial akibat penyalahgunaan obat tidak hanya dirasakan pemerintah, tetapi juga masyarakat kecil seperti pelaku UMKM, pedagang kaki lima, hingga pekerja sektor informal.
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota juga menyinggung program sekolah rakyat sebagai upaya memutus rantai kemiskinan. Namun, ia mengakui masih terdapat tantangan, termasuk adanya penyelundupan obat-obatan ke lingkungan sekolah oleh kelompok rentan.
“Masih ditemukan peredaran obat dosis tinggi yang disalahgunakan oleh anak-anak. Ini menjadi perhatian serius dan menunjukkan pentingnya pengawasan distribusi obat,” ujarnya.
Pemerintah Kota Surakarta, lanjutnya, berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan kesehatan serta memperkuat pengawasan distribusi obat guna melindungi masyarakat. Saat ini, Kota Surakarta didukung oleh 22 rumah sakit, 17 puskesmas, serta ratusan klinik yang terus berkembang.
Menutup sambutannya, Wali Kota berharap kegiatan ini mampu meningkatkan pemahaman, kompetensi, dan komitmen seluruh peserta dalam pengelolaan obat yang aman dan tepat sasaran.
“Semoga kegiatan ini memberikan manfaat dan memperkuat komitmen kita bersama dalam melindungi kesehatan masyarakat,” pungkasnya.
