Walikota Solo Respati Ardi Apresiasi Program Nafar Ramadhan MTA

Solo – Wali Kota Surakarta Respati Ardi secara resmi melepas keberangkatan peserta Nafar Ramadhan Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA) Pusat Surakarta, Selasa (4/3/2026), di Gedung MTA Pusat, Solo. Kegiatan tahunan tersebut menjadi bagian dari upaya mempererat ukhuwah sekaligus memperdalam pengkajian ilmu agama selama bulan suci Ramadan.

Acara pelepasan berlangsung khidmat dengan dihadiri ratusan peserta yang akan diberangkatkan ke berbagai daerah di Indonesia. Sejumlah pengurus pusat MTA turut mendampingi wali kota dalam seremoni tersebut.

Dalam sambutannya, Respati Ardi menyampaikan apresiasi atas konsistensi MTA dalam menyelenggarakan program Nafar Ramadhan setiap tahun. Ia menilai kegiatan tersebut bukan hanya agenda dakwah, tetapi juga bagian dari penguatan peran sosial keagamaan di tengah masyarakat.

“Program seperti ini tidak hanya memperkuat pemahaman agama, tetapi juga membantu masyarakat. Saya membayangkan jika semangat ini diterapkan di berbagai lembaga pendidikan, masjid-masjid kita akan semakin makmur,” ujar Respati.

Program Nafar Ramadhan sendiri merupakan agenda rutin MTA yang mengirimkan peserta ke sejumlah cabang dan perwakilan di berbagai daerah. Para peserta melaksanakan tafaqquh fiddin—pendalaman ilmu agama—sekaligus berdakwah di masyarakat. Tahun ini, kegiatan memasuki periode ketiga 1447 Hijriah.

Dalam tausiyah sebelum pelepasan, pengurus MTA menekankan pentingnya menjauhi sifat ananiyah atau sikap keakuan. Penyakit hati tersebut dinilai lebih berbahaya daripada wabah fisik karena dapat merusak keimanan dan melemahkan ukhuwah.

“Dalam Islam, yang membedakan manusia adalah tingkat ketakwaannya, bukan kekayaan, gelar akademik, atau status sosial,” disampaikan dalam ceramah tersebut.

Respati juga menyinggung pentingnya sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun kota yang kondusif selama bulan Ramadan. Ia memperkenalkan gagasan “Masjid Beri Solusi”, yaitu upaya memperluas fungsi masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pemberdayaan masyarakat.

“Masjid harus menjadi tempat yang memberi jawaban atas persoalan warga. Aktivasi masjid penting, termasuk membuka ruang bagi generasi muda untuk terlibat,” jelasnya.

Selain itu, Respati menekankan pentingnya regenerasi di lingkungan masjid dan organisasi. Ia mendorong keterlibatan generasi muda, termasuk generasi Z, agar masjid tetap relevan dan menjadi pusat pembinaan karakter.

“Kita perlu metode dakwah yang sesuai perkembangan zaman. Semakin banyak cara berdakwah yang adaptif, semakin besar peluang generasi muda merasa dekat dengan masjid,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Respati juga mengenang kiprah para tokoh MTA yang telah berperan besar dalam perjalanan organisasi keagamaan itu di Solo. Ia menyebut MTA sebagai bagian dari identitas spiritual Kota Surakarta yang telah berkembang ke berbagai daerah di Indonesia.

Menutup sambutannya, Respati Ardi secara resmi melepas keberangkatan peserta Nafar Ramadhan dengan mengucap basmalah dan mendoakan seluruh peserta agar diberikan kesehatan serta keselamatan selama menjalankan tugas.

“Semoga kegiatan ini berjalan lancar dan membawa manfaat bagi umat,” pungkasnya.

Prosesi diakhiri dengan sesi foto bersama dan simbolisasi pemberangkatan. Bagi MTA, Nafar Ramadhan bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan momentum pembentukan karakter, penguatan keikhlasan, dan ladang pengabdian bagi masyarakat.

Dengan pelepasan ini, rangkaian kegiatan religius Ramadan di Surakarta resmi dimulai. Pemerintah kota berharap semangat ukhuwah dan pelayanan sosial terus tumbuh, menjadikan Solo sebagai kota yang religius sekaligus inklusif.

Scroll to Top