Menteri Bappenas Resmikan Pusat Studi Tropical Herbal Medicine saat Dies Natalis ke-50 UNS

Solo – Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) RI, Rachmat Pambudy meresmikan Pusat Studi Tropical Herbal Medicine di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Rabu (11/3/2026). Peresmian tersebut dilakukan bertepatan dengan puncak peringatan Dies Natalis ke-50 Universitas Sebelas Maret yang digelar di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram UNS.

Dalam sambutannya, Rachmat Pambudy mengapresiasi kemampuan UNS dalam mengembangkan potensi tanaman obat menjadi produk herbal bernilai tinggi. Menurutnya, UNS telah menunjukkan kapasitas untuk mengekstrak bahan alami dari tanaman herbal menjadi obat dalam bentuk kapsul.

“Kita ingin UNS bukan hanya menjadi pusat herbal nasional, tetapi secara bertahap juga berkembang di tingkat regional, bahkan menjadi bagian dari pengembangan pengobatan internasional,” ujar Rachmat.

Sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan tersebut, pemerintah turut memberikan bantuan berupa peralatan laboratorium serta dukungan penguatan pendidikan dalam bidang pengembangan obat herbal.

Rachmat menambahkan, Indonesia memiliki lebih dari 2.800 spesies tanaman obat yang berpotensi dikembangkan menjadi pengobatan alami. Potensi ini dinilai dapat dimanfaatkan secara optimal melalui riset dan inovasi yang dilakukan perguruan tinggi.

Sementara itu, Rektor UNS, Hartono menjelaskan bahwa pengembangan pusat studi herbal ini merupakan bagian dari dorongan sejumlah kementerian, termasuk Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, serta Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

“Kami ditunjuk dan diresmikan oleh Menteri PPN/Bappenas untuk mengembangkan pusat pengembangan tropical health medicine di UNS,” kata Hartono.

Untuk mendukung pengembangan tersebut, UNS berencana membangun gedung riset dan fasilitas uji klinis tanaman herbal. Nantinya, rumah sakit milik UNS akan dimanfaatkan sebagai lokasi penelitian dan pengujian klinis berbagai produk herbal.

Indonesia sendiri diketahui memiliki sekitar 30.000 jenis tanaman herbal, dengan 9.600 jenis di antaranya berpotensi dimanfaatkan sebagai obat. Pengembangan potensi tersebut diharapkan tidak hanya berkontribusi pada sektor kesehatan, tetapi juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Scroll to Top