Dipamerkan di METAVERSE Malaysia, Karya Mahasiswa DKV ISI Surakarta Tembus Ajang Internasional

Solo – Mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Seni Indonesia Surakarta kembali menorehkan prestasi di kancah internasional. Karya ilustrasi digital milik Gilbert Gohnarso (angkatan 2023) berhasil lolos kurasi dan dipamerkan dalam ajang International Art & Design Exhibition METAVERSE yang digelar di Universiti Teknologi MARA (UiTM) Puncak Alam, Malaysia, pada 12 Februari hingga 12 Maret 2026.

Pameran yang berlangsung di Galeri Seni Puncak A & B, Fakulti Seni Lukis & Seni Reka UiTM tersebut merupakan hasil kerja sama UiTM dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Sebanyak 120 karya dari berbagai negara turut dipajang dalam ajang internasional tersebut.

Gilbert yang saat ini tengah mengikuti program Asian International Mobility for Students (AIMS) melalui Inbound Exchange Program Semester Oktober 2025 di UiTM Malaysia, menampilkan karya berjudul “AVATRA”. Karya tersebut dikerjakan menggunakan teknik digital illustration dan generative visual dengan pendekatan eksploratif yang menggabungkan unsur budaya tradisional dan estetika futuristik.

Dalam proses kreatifnya, Gilbert memulai dengan pengembangan konsep serta riset visual terhadap motif batik Nusantara. Motif tersebut kemudian diolah ulang secara digital menjadi pola, tekstur, serta elemen cahaya yang menyatu dalam komposisi visual.

Figur avatar dalam karya ini dibangun melalui teknik digital rendering dengan penekanan pada detail anatomi wajah dan struktur visual menyerupai entitas virtual. Motif batik diaplikasikan menggunakan teknik layering, compositing, dan glowing effect, sehingga membentuk kesan data visual, energi, serta cahaya digital.

Proses pengerjaan karya ini mendapat bimbingan dari Basnendar Herry Prilosadoso selaku dosen DKV ISI Surakarta. Penggunaan warna neon, partikel, serta latar berbasis grid dan cahaya memperkuat nuansa metaverse dan ruang virtual. Secara keseluruhan, karya ini memadukan ilustrasi digital, manipulasi visual, serta eksplorasi estetika futuristik dalam merepresentasikan budaya yang bertransformasi di era digital.

Judul AVATRA berasal dari istilah avatar digital, yang dimaknai sebagai perwujudan identitas manusia di ruang metaverse. Dalam karya ini, batik tidak sekadar menjadi ornamen tradisional, melainkan ditransformasikan menjadi pola cahaya, data visual, dan struktur digital yang menyatu dengan figur manusia virtual. Transformasi ini merefleksikan pergeseran budaya dari bentuk fisik dan historis menuju wujud baru yang imaterial, interaktif, dan futuristik.

Melalui karya tersebut, Gilbert menyampaikan bahwa budaya bersifat dinamis. Batik sebagai warisan leluhur dapat terus hidup, berevolusi, serta menemukan relevansinya di ruang digital. Karya ini menjadi jembatan antara masa lalu, identitas masa kini, dan imajinasi masa depan dalam ekosistem metaverse.

Mahasiswa asal Medan tersebut berharap partisipasinya dalam pameran internasional ini dapat menjadi bagian dari dialog seni global yang mempertemukan beragam perspektif serta mendorong pertukaran gagasan lintas budaya. Pengalaman ini diharapkan menjadi pijakan dalam pengembangan praktik berkarya yang lebih matang dan berkelanjutan di masa mendatang.

Scroll to Top