Afrizal Adi Prayoga : Guru Muda Yang Mengabdi Di Pelosok Negeri
Solo – Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Proses menebar manfaat itu bisa diaplikasikan dalam segi kehidupan, salah satunya adalah menjadi pengajar. Adalah Afrizal Adi Prayoga, Lulusan S1 Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) yang memilih jalan menjadi pengajar di pelosok negeri. Bagi Rizal, mengajar merupakan sebuah panggilan hati/proses menebar manfaat yang dijalankan dengan suka cita dan penuh perhatian.
Lewat program PIJAR dari CT Arsa Foundation, Rizal mengabdi di salah satu daerah pelosok di Sulawesi. Guru muda asal Sukoharjo ini ditempatkan selama setahun di SD Negeri 188 Nating, kecamatan Bungin, kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.
Ketertarikannya untuk mengajar di daerah pelosok pun bukan sesuatu yang baru. Menurut Rizal, dia akan senang ketika melihat masyarakat dengan hati yang murni baik sehingga sangat terbuka kepada pendatang. Terbukti sejak masih menjadi mahasiswa, ia aktif dalam berbagai kegiatan pengabdian masyarakat berupa volunteer, pengalaman KKN di Banda Neira Maluku, hingga menginisiasi program bersama anak-anak suku Bajo di Sulawesi Tenggara serta menginisiasi program mitigasi bencana di Nusa Tenggara Timur.
Pengalaman ini memberikannya ruang untuk terus belajar. Dari berbagai pengalaman ini mengubah pola pikir Rizal bahwa seorang guru tidak hanya memberikan pengetahuan kepada murid, tetapi juga terus menerima pelajaran dari lingkungan dan orang-orang di sekitarnya.
Tak hanya itu, selama menjalani peran sebagai mahasiswa, Rizal juga menorehkan pencapaian yang beragam. Prestasi tersebut dimulai dari berbagai perlombaan hingga pada tahun 2023 ia terpilih sebagai Duta Bahasa Provinsi Jawa Tengah. Lewat akun Instagram @afrizaladiii dan tiktok @awbocil pribadinya, ia juga masih aktif untuk memasyarakatkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
“Semua orang yang saya temui di sini menurut saya itu cukup susah, yang pertama karena keterbatasan bahasa, keterbatasan bahasa antara aku dan anak-anak di sini. Aku dan masyarakat di sini karena mayoritas anak-anak di sini tuh menggunakan bahasa daerahnya mereka gitu jadi agak kesusahan mereka tuh agak susah bahasa Indonesia” Kata Rizal.
Selain tantangan terhadap jarak tempuh, akses jalan di wilayah perbukitan kaki gunung Latimojong, dan cuaca yang berbeda, keterbatasan bahasa juga menjadi salah satu tantangan yang dihadapi Rizal. Mayoritas masyarakat belum seratus persen paham dan tahu bagaimana cara membangun komunikasi dengan bahasa Indonesia. Tantangan inilah yang menyebabkan rasa kedekatan antara anak-anak dan Rizal menjadi sulit dibangun.
Namun, strategi penyelesaian masalah ia laksanakan dengan solusi yang kontekstual. Pada 1-3 bulan pertama, Rizal beradaptasi dengan lingkungan sekitar untuk menyelaraskan pola lingkungan dan budaya yang ada di sekitarnya. Hasil oservasi ini mencetuskan budaya baru dalam segi karakter.
“Dari segi karakter sudah bisa disiplin. Terbukti adanya apel pagi setiap Senin, sebelum saya datang menjadi guru di sini belum ada apel pagi atau upacara pagi setiap hari Senin. Terus belum ada juga senam setiap hari Kamis dan Jumat. Nah, saya datang untuk menginisiasi hal-hal pembiasaan baik tersebut”, ungkap Rizal.
Baginya, dampak tidak selalu harus berupa perubahan besar. Terkadang perubahan itu dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Prinsip tersebut ia wujudkan dengan mengadakan les gratis bagi anak-anak, terutama mereka yang masih mengalami kesulitan membaca dan les ini dilaksanakan setiap sore hari.
Ilmu yang diperolehnya selama menempuh pendidikan Sastra Indonesia di UNS pun turut menjadi bekal dalam menjalankan pengabdian. Kemampuan memahami bahasa, makna, konteks, serta cara berkomunikasi membantunya membangun hubungan dengan siswa dan masyarakat. Pengalaman pengabdian yang telah dijalani sejak kuliah juga membantunya menerapkan pembelajaran secara kontekstual.
“Jadi saya memilih untuk menjadi seorang guru karena saya bisa membagikan sedikit ilmu yang saya miliki. Karena saya ingin menjadi orang yang bermanfaat dan saya tidak mau mati sia-sia. Jadi akhirnya saya memilih untuk menjadi guru.” Pungkasnya.
Pengabdian Rizal di Sulawesi Selatan memang hanya berlangsung selama satu tahun. Namun, keterbatasan waktu justru membuatnya selalu hadir untuk belajar bersama, menanamkan kebiasaan baik, dan meyakinkan anak-anak bahwa tempat mereka tinggal tidak seharusnya menjadi batas bagi mimpi mereka. Waktu yang terbatas itu tidak membuatnya menjalani pengabdian dengan setengah hati. Justru karena mengetahui bahwa suatu saat ia harus kembali setiap hari menjadi kesempatan untuk memberikan yang terbaik. Harapnya, pendidikan di daerah tersebut mendapatkan perhatian yang semakin baik, terutama dari sisi keberlanjutan proses belajar, fasilitas, dan akses terhadap sumber belajar.
Perjalanan Afrizal Adi Prayoga menunjukkan bahwa mengabdi tidak selalu tentang seberapa besar perubahan yang mampu diciptakan, tetapi tentang seberapa tulus seseorang hadir dan memberikan yang terbaik. Jejak pengabdiannya menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya bertumpu pada fasilitas atau lokasi, tetapi juga pada kehadiran seorang guru yang bersedia belajar bersama murid-muridnya. Meski hanya memiliki waktu 365 hari di pelosok Sulawesi Selatan, setiap hari ia manfaatkan untuk menanamkan kebiasaan baik, membangun kedekatan dengan siswa, dan membuka ruang belajar yang lebih bermakna. (Muhammad Hilmy Pandoyo)
