Jumat, 14 Agu, 2026

Dari Mimpi ke Canberra: Husna Ajarkan Budaya dan Bahasa Indonesia di Australia

Solo – Kesempatan untuk belajar dan mengajar di luar negeri menjadi impian bagi sebagian mahasiswa. Namun, untuk mewujudkannya dibutuhkan keberanian, kemauan belajar, dan kepercayaan diri.

Hal tersebut dilakukan Husna Maulida Yulia Rahma, mahasiswa semester tujuh Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang mendapat kesempatan mengikuti program Teaching Assistant di Canberra, Australia.

Bagi Husna, kesempatan menginjakkan kaki di luar negeri bukanlah sesuatu yang datang begitu saja. Keinginan untuk belajar dan mendapatkan pengalaman di luar negeri telah tumbuh sejak dirinya duduk di bangku SMA.

“Kemauan yang kuat untuk belajar di luar negeri. Karena sejak SMA itu memang pikiran aku udah terbuka agar suatu saat nanti itu aku ingin sekali untuk bisa menginjakkan kaki di luar negeri,” ungkap Husna.

Keinginan tersebut kemudian menemukan jalannya ketika Husna mendapatkan informasi mengenai program Teaching Assistant yang diselenggarakan Badan Bahasa di bawah naungan Atikbud, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Canberra.

Program tersebut menjadi kesempatan bagi Husna untuk mewujudkan cita-citanya sekaligus berkontribusi dalam pengembangan bahasa dan kebudayaan Indonesia di luar negeri.

Keputusan Husna untuk mengikuti program tersebut semakin mantap karena adanya dukungan berupa uang saku serta tiket pesawat pulang-pergi yang ditanggung universitas. Ia mengikuti program tersebut selama sekitar dua setengah bulan, mulai 15 Juli hingga 28 September 2026.

Bukan Sekadar Menjadi Teaching Assistant

Di Canberra, Husna mendapatkan tugas di komunitas bahasa. Namun, perannya tidak hanya sebagai asisten pengajar. Bersama seorang rekan, ia justru menjalankan peran sebagai guru utama.

“Kebetulan saya mendapatkan tempat mengajar di Community Language, di mana ini merupakan komunitas bahasa. Dan sebenarnya saya di sini tidak hanya sebagai assistant, tapi sebagai guru utama. Karena guru pamongnya tidak ada,” jelasnya.

Ketiadaan guru pamong membuat Husna dan rekannya harus mempersiapkan berbagai kebutuhan pembelajaran secara mandiri. Mulai dari RPP, media, hingga materi pembelajaran dipersiapkan oleh keduanya.

“Jadi segala sesuatunya, mulai dari RPP, kemudian media dan materi dan lain sebagainya itu memang dipersiapkan seutuhnya oleh kami, dua orang guru bantu,” lanjut Husna.

Antusiasme Murid terhadap Indonesia

Menjadi pengajar di luar negeri tentu memberikan tantangan tersendiri. Namun, di balik tanggungjawab tersebut, Husna menemukan pengalaman yang justru membuatnya semakin bersemangat.

Salah satu pengalaman mengajar yang paling berkesan baginya adalah melihat reaksi para murid terhadap Indonesia. Antusiasme mereka bahkan berada di luar perkiraan Husna.

“Pengalaman mengajar yang paling berkesan itu dari reaksi muridnya. Mereka itu begitu antusias terhadap Indonesia dan bahkan di luar dugaan saya, ternyata antusias mereka setinggi itu,” tuturnya.

Antusiasme tersebut terlihat dari pengetahuan dan pengalaman para murid mengenai Indonesia. Sejumlah murid bahkan telah mengunjungi berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Dieng, Yogyakarta, hingga Manado.

Ketertarikan terhadap bahasa dan budaya Indonesia membuat proses pembelajaran berlangsung dengan penuh semangat. Para murid terbuka terhadap materi, aktif berdiskusi, dan saling bertukar pikiran.

Belajar Beradaptasi di Negeri Orang

Tidak hanya memberikan pengalaman mengajar, kehidupan di Canberra juga membuat Husna harus beradaptasi dengan budaya dan kebiasaan masyarakat setempat.

Salah satu hal yang paling terasa baginya adalah suasana lingkungan yang cenderung tenang dan individual. Di lingkungan tempat tinggalnya, Husna jarang menemukan warga yang bercakap-cakap di depan rumah dengan tetangga. Untuk beradaptasi, Husna memilih mengamati lingkungan, kultur, serta kebiasaan masyarakat setempat.

“Cara saya beradaptasi itu yang pertama tentu dengan mengobservasi atau mengamati lingkungan sekitar, kultur yang berkembang, serta kebiasaan masyarakat di sini,” katanya.

Salah satu kebiasaan yang ia perhatikan adalah ketika menggunakan transportasi umum. Penumpang diharapkan tidak berbicara terlalu keras maupun memutar suara dari telepon genggam dengan volume tinggi.

“Sebagai contoh yang pertama ketika kami mengendarai atau menaiki transportasi umum seperti bus, itu kami tidak diperbolehkan untuk bersuara keras maupun menyalakan speaker HP terlalu keras,” jelas Husna.

Selain kebiasaan menggunakan transportasi umum, pengelolaan sampah juga menjadi hal yang menarik perhatian Husna. Sampah rumah tangga dipisahkan berdasarkan jenisnya, termasuk sampah organik, anorganik, dan sampah yang masih dapat didaur ulang.

Pengalaman tersebut membuat Husna tidak hanya mendapatkan pengalaman mengajar, tetapi juga membuka wawasan mengenai kehidupan dan kebiasaan masyarakat di negara lain.

Dukungan Keluarga di Balik Perjalanan

menjalani program di luar negeri membuat dukungan keluarga menjadi salah satu hal penting bagi Husna. Dukungan tersebut tidak hanya berupa dukungan finansial, tetapi juga dukungan mental. Komunikasi dengan keluarga tetap terjaga melalui pesan dan grup keluarga. Orang tua Husna secara rutin menanyakan kabar, kondisi, hingga kebutuhan sehari-harinya.

“Yang pertama itu karena adanya dukungan orang tua yang penuh, baik dari segi finansial maupun mental. Setiap hari orang tuaku itu secara intens menanyakan kabarku hari ini, makan apa, melalui chat di grup-grup keluarga,” ungkapnya.

Bagi mahasiswa yang ingin mengikuti program serupa, Husna menilai kemampuan berbahasa Inggris menjadi salah satu hal yang perlu dipersiapkan. Selain itu, wawasan mengenai Indonesia juga menjadi bekal penting. Sebagai pengajar bahasa Indonesia di luar negeri, pengetahuan yang dibagikan tidak hanya berkaitan dengan bahasa, tetapi juga budaya dan kebiasaan masyarakat Indonesia.

Jangan Biarkan Keraguan Menghalangi Mimpi

Pengalaman Husna di Canberra kemudian membawanya pada satu pesan bagi mahasiswa yang masih ragu untuk mencoba kesempatan serupa. Menurutnya, kemauan, tekad, dan kepercayaan diri menjadi modal untuk berani melangkah. Sebab, kesempatan tidak selalu datang untuk kedua kalinya.

“Yang pertama itu udah coba saja. Jika kamu memang betul-betul mempunyai kemauan yang tinggi, tekad yang tinggi dan percaya diri dengan bekal yang kamu miliki, coba saja,” pesannya.

Bagi Husna, peluang yang datang harus berani diambil. Keraguan dan rasa insecure tidak seharusnya menjadi penghalang untuk mencapai cita-cita.

“Peluang atau kesempatan yang ada di depan mata itu tidak datang untuk kedua kalinya. Jangan jadikan keraguan dan insekuritismu itu sebagai penghalang untuk mencapai cita-cita dan impianmu,” tegasnya.

Pengalaman Husna menjadi bukti bahwa keberanian untuk mencoba dapat membuka pintu menuju pengalaman baru. Dari seorang mahasiswa asal Boyolali, Husna kini mendapat kesempatan mengajar bahasa sekaligus mengenalkan budaya Indonesia di Canberra.

Perjalanan tersebut bukan hanya tentang mengajar di negeri orang, tetapi juga tentang belajar beradaptasi, mengenal budaya yang berbeda, dan membawa nama Indonesia melalui bahasa dan kebudayaan.

Sebab, terkadang sebuah mimpi tidak membutuhkan langkah yang sempurna untuk dimulai. Ia hanya membutuhkan keberanian untuk mencoba. (Wening Cahya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LIVE
Persada FM 102.2 MHz