Wayang Babad Kartasura Dikemas Interaktif, Pelajar SD Kenalkan Lakon Kembang Ngargayasa
Solo – Pengenalan seni tradisi kepada generasi muda dilakukan dengan pendekatan yang lebih interaktif. Tim Program Inovatif Seni Nusantara (PISN) FSRD ISI Surakarta mengenalkan Wayang Babad Kartasura kepada siswa SD Negeri Dadapsari, Surakarta, melalui pertunjukan wayang climen yang dipadukan dengan teknologi motion graphic.
Kegiatan yang digelar Jumat lalu di halaman SD Negeri Dadapsari tersebut mengangkat lakon Kembang Ngargayasa yang mengisahkan sosok Matah Ati. Tokoh tersebut digambarkan sebagai figur perempuan yang melawan ketidakadilan dan memimpin pasukan perlawanan terhadap pihak pribumi yang bersekutu dengan kompeni.
Pertunjukan menjadi bagian dari puncak rangkaian Hibah PISN Kemdiktisaintek Tahun 2026 bertajuk “Revitalisasi Sejarah Babad Kartasura Melalui Eksistensi Dalang Wanita Lewat Pagelaran Kolaborasi Wayang dengan Motion Graphic.”
Berbeda dengan pertunjukan wayang pada umumnya, siswa diberikan kesempatan untuk memegang dan menggerakkan karakter wayang Babad Kartasura. Mereka bebas memilih tokoh yang disukai, mulai dari Patih Pringgalaya, Matah Ati, hingga karakter prajurit kompeni.
Selain melibatkan siswa secara langsung, pertunjukan juga memanfaatkan motion graphic yang ditampilkan melalui LCD proyektor di balik kelir. Perpaduan seni tradisi dan multimedia tersebut dirancang agar cerita wayang lebih mudah diterima sekaligus menarik perhatian pelajar.
Dalang sekaligus Ketua Sanggar Wayang Gamelan Sangswara Kartasura, Nia Dwi Raharjo mengatakan, keterlibatan langsung siswa dan penggunaan tembang dolanan menjadi bagian dari konsep pertunjukan agar suasana lebih interaktif.
“Dengan menyanyikan tembang dolanan dan siswa diperbolehkan memegang wayang bertujuan untuk lebih menarik dan interaktif dengan penonton,” jelas Nia.
Antusiasme siswa juga terlihat ketika mereka diajak menyanyikan sejumlah tembang dolanan secara bersama-sama. Lagu Wajibe Dadi Siswa dan Kidang Talun turut mengiringi pertunjukan sehingga suasana pementasan menjadi lebih hidup.
Kepala SD Negeri Dadapsari Surakarta, Nuning Harmini menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, pertunjukan ini memberikan pengalaman baru bagi siswa untuk mengenal Wayang Babad Kartasura secara langsung.
Ia juga menilai kesempatan memegang wayang serta penggunaan motion graphic menjadi daya tarik tersendiri bagi siswa.
“Event ini baru pertama kali diselenggarakan. Siswa mendapat pengalaman baru mengenai wayang Babad Kartasura dan asyiknya siswa bisa memegang wayang secara langsung. Selain itu, tayangan melalui motion graphic juga menambah daya tarik pentas wayang,” ungkap Nuning.
Ketua tim Hibah PISN FSRD ISI Surakarta, Basnendar Herry Prilosadoso mengatakan, pertunjukan tersebut menjadi alternatif media untuk mengenalkan seni tradisi kepada pelajar dengan memanfaatkan perkembangan teknologi multimedia.
Menurut dosen DKV FSRD ISI Surakarta tersebut, penggunaan motion graphic dalam pertunjukan wayang diharapkan mampu memadukan unsur edukasi dan rekreasi sehingga cerita tradisi dapat lebih mudah diterima oleh segmentasi penonton anak-anak.
“Pentas ini untuk memberi alternatif media pengenalan wayang berkolaborasi lewat teknologi multimedia motion graphic kepada siswa,” katanya.
Kegiatan tersebut digarap tim PISN FSRD ISI Surakarta yang terdiri atas Basnendar Herry Prilosadoso selaku ketua, Ana Rosmiati, Indriati Suci Pravitasari, dan Sri Murwanti sebagai anggota, bersama mitra sanggar dan tim mahasiswa.
Melalui pendekatan tersebut, Wayang Babad Kartasura tidak hanya dikenalkan sebagai seni pertunjukan tradisional, tetapi juga dihadirkan sebagai media pembelajaran yang interaktif dan dekat dengan karakter penonton anak-anak.
