Jumat, 06 Nov, 2026

Siswa SMP Muhammadiyah 1 Simpon Solo Tembus Pameran Aksara Internasional, Karyanya Angkat Hanacaraka

Solo – Aksara Jawa kembali mendapat ruang di panggung internasional melalui karya kreatif pelajar Kota Solo. Baskarabumi Haidar Alif Jadaa, siswa kelas VII SMP Muhammadiyah 1 Simpon Surakarta, berhasil lolos kurasi dan terpilih memamerkan karyanya dalam International Exhibition AKSARA: Nusantara & The World Scripts 2026 di Yogyakarta.

Karya Baskarabumi yang akrab disapa Aska tersebut mengangkat aksara Jawa atau Hanacaraka dengan teks “Alon-Alon Waton Kelakon”. Melalui pengolahan digital, susunan huruf Jawa ditata ulang menjadi komposisi visual yang menarik.

Dalam proses pembuatannya, Aska menggunakan tablet dan perangkat lunak pengolah gambar digital. Ia menduplikasi teks secara acak, kemudian menambahkan tulisan berwarna merah sebagai penjelasan pesan yang ingin disampaikan melalui karyanya.

Aska mengaku senang mendapat kesempatan memamerkan karya bersama seniman dan peserta dari berbagai negara. Ia berharap pengalaman tersebut dapat menambah wawasan sekaligus memotivasinya untuk terus berkarya.

Pameran yang berlangsung pada 28 Oktober hingga 10 November 2026 di Gedung Transformasi Digital Sekolah Tinggi Multi Media (STMM) Yogyakarta itu menampilkan 272 karya terpilih dari 175 seniman asal 20 negara.

Karya-karya tersebut melewati proses kurasi dengan tema aksara non-Latin dari berbagai belahan dunia. Selain aksara Jawa, pameran juga menghadirkan aksara Bali, Sunda, Lontara, Pegon, serta beragam sistem tulisan lainnya.

Karya yang dipamerkan hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari poster, ilustrasi, kartun, tipografi, hingga kaligrafi. Keberagaman media tersebut memperlihatkan bagaimana aksara dapat dikembangkan menjadi karya seni visual tanpa meninggalkan karakter dan nilai budayanya.

Pameran ini diselenggarakan Program Studi Animasi STMM Yogyakarta dengan dukungan kurator internasional, asosiasi PAKARTI, Union World Cartoonists (UWC), serta Museum Huruf Jember. Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya memperkenalkan sekaligus menjaga warisan aksara sebagai bagian dari identitas budaya.

Orang tua Aska, Evy Widyaningsih, mengaku bangga atas kesempatan yang diperoleh putranya. Ia berharap pengalaman melihat langsung karya peserta lain dari dalam dan luar negeri dapat memberikan inspirasi bagi Aska untuk mengembangkan kreativitasnya.

Pembukaan pameran turut dihadiri sejumlah undangan dari TVRI Yogyakarta, Balai Pelatihan SDM Komdigi Yogyakarta, Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), Funymation Studio Animasi, Museum Huruf Jember, serta civitas academica STMM.

Keikutsertaan Aska menjadi contoh bahwa pelestarian aksara Nusantara dapat dilakukan melalui pendekatan kreatif dan teknologi digital. Dari karya seorang pelajar di Solo, aksara Jawa mendapat kesempatan untuk dikenal lebih luas dalam pertemuan seni dan budaya lintas negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

STANDBY
Persada FM 102.2 MHz