Minggu, 16 Agu, 2026

Ahmad Saifuddin, Mengubah Pengalaman Beasiswa Menjadi Jembatan Menuju Pendidikan

Sukoharjo – Kesempatan mendapatkan beasiswa semasa SMA menjadi titik awal perjalanan Ahmad Saifuddin dalam mengejar pendidikan tinggi. Pengalaman tersebut tidak berhenti ketika ia berhasil melanjutkan kuliah, tetapi justru mendorongnya untuk membantu siswa lain mempersiapkan diri menuju perguruan tinggi.

Pemuda asal Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur itu kini aktif memberikan pendampingan kepada siswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Pengalaman selama menjadi penerima beasiswa, aktif berorganisasi, mengikuti berbagai perlombaan, hingga magang menjadi bekal yang ia gunakan untuk membantu calon mahasiswa.

Berawal dari Kesempatan Mendapatkan Beasiswa

Bagi Ahmad, keinginan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi tidak muncul sejak awal. Ia melihat banyak teman di lingkungannya yang memilih bekerja setelah lulus SMA. Kondisi tersebut membuat kuliah belum menjadi pilihan yang terpikirkan olehnya.

Kesempatan berubah ketika Ahmad menemukan informasi mengenai beasiswa saat masih duduk di bangku SMA. Dari kesempatan tersebut, muncul keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri.

“Awalnya saya juga tidak terpikirkan untuk kuliah. Namun, ketika saya menemukan beasiswa di tingkat SMA, dari situlah mulai muncul mimpi-mimpi untuk berkuliah di perguruan tinggi negeri,” ujar Ahmad.

Sebagai penerima beasiswa, Ahmad tidak hanya berfokus pada pendidikan akademik. Ia aktif mengikuti organisasi, berbagai perlombaan, serta mengembangkan kemampuan di luar program studi.

Pengalaman tersebut semakin berkembang ketika Ahmad mendapat kesempatan magang di SPMB UNS. Saat itu, ia bertugas di bagian front office yang melayani konsultasi orang tua dan siswa terkait proses penerimaan mahasiswa baru di Universitas Sebelas Maret.

Pengalaman tersebut membuat Ahmad melihat bahwa ilmu yang dipelajarinya di program studi Bimbingan dan Konseling dapat diterapkan secara langsung untuk membantu calon mahasiswa.

“Di SPMB saya bagian front office. Itu melayani konsultasi orang tua dan siswa yang akan masuk ke UNS. Dari situlah saya mulai merasa ilmu dari prodi saya bisa bermanfaat di situ. Bukan hanya konsultasi masalah konseling, tetapi juga konsultasi masalah pendaftaran mahasiswa,” katanya.

Dari pengalaman tersebut, kepedulian Ahmad terhadap calon mahasiswa semakin tumbuh. Ia melihat masih banyak siswa yang membutuhkan pendampingan ketika menentukan pilihan program studi maupun mempersiapkan diri untuk masuk perguruan tinggi.

Mengembangkan Gerbang Kuliah

Sebelum membuka layanan konsultasi, Ahmad terlebih dahulu membangun platform Gerbang Kuliah. Platform tersebut awalnya digunakan untuk berbagi informasi mengenai dunia perguruan tinggi.

Seiring waktu, Gerbang Kuliah dikembangkan tidak hanya sebagai media informasi, tetapi juga menjadi ruang konsultasi bagi siswa yang ingin mempersiapkan diri masuk perguruan tinggi.

Pada 2026, Ahmad mulai membuka layanan konsultasi masuk perguruan tinggi. Selain konsultasi, ia juga mengembangkan program try out dan pendampingan persiapan masuk kampus.

Langkah tersebut menjadi cara Ahmad memanfaatkan pengalaman dan keterampilan yang diperolehnya selama menjadi mahasiswa agar dapat memberikan manfaat kepada siswa lain.

Dalam menjalankan layanan konsultasi, Ahmad menerapkan sistem berbayar. Namun, ia menegaskan bahwa layanan tersebut tidak semata-mata ditujukan untuk mencari keuntungan.

Ia memilih menetapkan biaya yang relatif terjangkau agar layanan tersebut tetap dapat diakses siswa sekaligus membuat peserta memiliki komitmen dalam mengikuti proses pendampingan.

Bagi Ahmad, hal yang paling penting adalah memastikan siswa yang mengikuti konsultasi benar-benar memiliki kemauan untuk belajar dan mempersiapkan diri.

“Menurut saya, konsultasi itu bagaimana cara kita memanfaatkan pengalaman-pengalaman ketika menjadi mahasiswa, ketika kita mendapatkan beasiswa, dan juga keterampilan yang sudah kita asah. Itu bisa dimanfaatkan untuk membantu orang lain,” ujarnya.

Menurut Ahmad, pengalaman yang diperoleh seseorang selama menempuh pendidikan akan memiliki nilai lebih ketika dapat dibagikan kepada orang lain. Kesempatan yang dahulu membantunya melangkah menuju perguruan tinggi kini ingin ia teruskan kepada siswa lain.

Perjalanan Ahmad Saifuddin menunjukkan bahwa sebuah kesempatan dapat menjadi awal dari perjalanan yang lebih panjang. Dari pengalaman sebagai penerima beasiswa hingga menjadi pendamping calon mahasiswa, ia berupaya menjadikan ilmu, keterampilan, dan pengalaman yang dimilikinya sebagai jembatan bagi orang lain untuk meraih pendidikan tinggi. (Mei Shellawati)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LIVE
Persada FM 102.2 MHz