Aktif dengan Prestasi, Berkembang melalui Inovasi
Solo – Menjadi mahasiswa tidak hanya tentang menjalani perkuliahan. Bagi Abdul Aziz Matsuri, mahasiswa semester enam Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Sebelas Maret (UNS), masa kuliah menjadi kesempatan untuk mengembangkan potensi, meraih prestasi, sekaligus menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
Di tengah kesibukannya menyelesaikan skripsi, Matsuri tetap aktif dalam berbagai kegiatan. Ia terlibat dalam penelitian dosen, pengembangan startup di SEMESTA (Sebelas Maret Startup Academy), serta mengikuti berbagai perlombaan. Sebelumnya, ia juga aktif di sejumlah organisasi kampus, seperti BEM UNS, SKI, dan himpunan mahasiswa pada periode 2024 dan 2025.
Keaktifan Matsuri dalam berbagai kegiatan sebenarnya telah dimulai sejak duduk di bangku SMA. Setelah tidak lagi aktif berorganisasi, ia memilih memanfaatkan waktu luang dengan mengikuti berbagai kegiatan dan mengejar prestasi. Baginya, berbagai aktivitas tersebut merupakan bagian dari proses belajar dan pengembangan diri.
“Kalau misalkan mengejar prestasi itu lebih ke niatnya untuk mencoba memanfaatkan waktu luang ketika sudah tidak mengikuti organisasi. Apa yang mendorong untuk berusaha memaksimalkan potensi karena sejatinya manusia adalah pembelajar di mana pun dia berada,” ungkap Matsuri.
Dari berbagai pencapaian yang diraih, salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Matsuri adalah ketika menjadi Awardee Rumah Kepemimpinan. Melalui program tersebut, ia mendapatkan kesempatan untuk memperluas wawasan, membangun relasi, mengenal diri sendiri, serta mengasah kemampuan kepemimpinan.
Kembangkan Gagasan melalui Startup
Pengalaman mengikuti berbagai kegiatan juga mendorong Matsuri mengembangkan gagasan di luar ruang perkuliahan. Salah satunya melalui keterlibatannya dalam pengembangan startup di SEMESTA, program inkubasi dan akselerasi startup UNS.
Bersama tim, Matsuri mengembangkan gagasan digitalisasi masjid yang kemudian diwujudkan melalui inovasi bernama GetMasjid. Gagasan tersebut dibawa Matsuri bersama tim dalam sebuah expo yang diselenggarakan Pemerintah Kota Surabaya. Di bawah naungan One Startup Academy, mereka memperkenalkan GetMasjid sebagai aplikasi yang dirancang untuk memetakan masjid di Indonesia sekaligus mendukung digitalisasi berbagai aktivitas masjid.
“Jadi kemarin saya mengikuti Expo yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Surabaya, yang di situ kami dinaungi oleh One Startup Academy. Dan kami membawa sebuah produk startup, yaitu bagaimana memetakan masjid yang ada di Indonesia yang nantinya akan kami buat menjadi sebuah aplikasi bernama GetMasjid,” jelasnya.
GetMasjid dikembangkan untuk memetakan masjid di Indonesia sekaligus mendukung digitalisasi pengelolaannya. Sejumlah fitur yang disiapkan antara lain infaq digital, pencatatan keuangan dan kegiatan masjid, informasi kegiatan, pencarian masjid terdekat, serta integrasi waktu salat.
Bagi Matsuri, inovasi tersebut diharapkan dapat mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat kegiatan masyarakat.
“Dari masjid sendiri juga bisa mendigitalisasikan masjid menjadi epicentrum peradaban. Jadi mengembalikan marwah masjid kembali,” tuturnya.
Keikutsertaan dalam Expo Surabaya juga membuka wawasan Matsuri mengenai perkembangan startup di Indonesia yang bergerak di berbagai bidang. Pengalaman tersebut mendorongnya untuk terus belajar dan menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi.
“Ketika kita tahu zaman sekarang sudah mulai berubah, jadi kita juga harus mulai untuk mengubah mindset kita mengikuti zaman tersebut,” katanya.
Belajar dari Proses
Berbagai kegiatan dan pengalaman mengembangkan startup menjadi bagian dari proses Matsuri dalam belajar dan mengembangkan diri. Dari aktivitas yang dijalani, ia tidak hanya memperoleh pengalaman di bidang yang digeluti, tetapi juga belajar mengenai kepemimpinan, manajemen waktu, pengelolaan emosi, hingga kemampuan bekerja dalam tim.
Namun, menjalani berbagai kegiatan di tengah kesibukan kuliah bukan tanpa tantangan. Matsuri mengaku harus membagi waktu dengan baik, bahkan terkadang mengorbankan waktu istirahat ketika mengikuti perlombaan.
Ketika hasil yang diperoleh belum sesuai harapan, ia juga perlu belajar menghadapi rasa kecewa dan mengelola emosi. Dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut, lingkungan menjadi salah satu faktor yang membantunya untuk tetap konsisten.
Matsuri berusaha berada di lingkungan yang positif dan mendukungnya untuk terus berkembang. Menurutnya, lingkungan yang baik dapat membantu seseorang menghadapi berbagai persoalan dan terus melangkah.
Pengalaman tersebut kemudian membentuk pandangan Matsuri mengenai makna prestasi. Pandangan itu tercermin melalui keterlibatannya dalam pengembangan GetMasjid. Bersama tim, ia tidak hanya mengikuti kegiatan startup untuk mendapatkan pengalaman, tetapi juga berusaha mengembangkan gagasan yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Berprestasi menurut saya adalah orang yang bisa mengkaryakan diri, baik untuk dirinya sendiri, dan nantinya karya itu bisa bermanfaat untuk orang lain, bukan hanya sekadar prestasi untuk membawa piala,” ujarnya.
Bagi Matsuri, menjadi mahasiswa berprestasi berarti terus belajar, memanfaatkan setiap kesempatan, dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Ia pun berpesan kepada mahasiswa yang masih ragu untuk tidak takut mencoba dan yakin terhadap kemampuan diri.
Perjalanan Matsuri menunjukkan bahwa prestasi dapat hadir dalam berbagai bentuk. Melalui keaktifan dalam berbagai kegiatan dan pengembangan GetMasjid, ia berusaha mengubah gagasan menjadi karya yang tidak hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. (Muhammad Hilmy Pandoyo)
