Estafet Kepemimpinan Bergulir, PWI Surakarta Teguhkan Marwah Pers di Era Digital
Solo – Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Surakarta masa bakti 2026–2031 resmi dilantik oleh Ketua PWI Pusat Akhmad Munir di The Sunan Hotel Solo, Sabtu (12/9/2026).
Pelantikan tersebut menjadi momentum pergantian kepengurusan sekaligus penegasan komitmen PWI Surakarta dalam menghadapi tantangan dunia pers di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Dalam arahannya, Akhmad Munir menilai PWI Surakarta memiliki kedekatan historis dengan perjalanan pers nasional. Kota Solo menjadi salah satu daerah penting dalam sejarah perjuangan para wartawan dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Menurutnya, kedekatan sejarah tersebut menjadi tanggung jawab bagi PWI Surakarta untuk terus berperan dalam menentukan arah pers di masa depan.
“Oleh karena itu, dengan keistimewaannya di Surakarta ini, PWI Surakarta harus konsisten menjadi ujung tombak dalam diskursus pers masa depan di tengah tantangan zaman,” ujar Akhmad Munir.
Ia mengatakan tantangan pers saat ini berbeda dengan masa lalu. Jika dahulu wartawan berhadapan dengan tantangan dalam menyampaikan kisah perjuangan bangsa, kini pers harus mampu membantu masyarakat memilah informasi yang benar di tengah derasnya arus fake news, disinformasi, hingga deepfake.
Akhmad Munir mendorong wartawan untuk tidak hanya mengejar kecepatan dalam menyampaikan informasi, tetapi juga memastikan setiap informasi yang disajikan telah melalui proses verifikasi.
Sementara itu, Ketua PWI Surakarta periode 2026–2031, Sri Hartanto, menegaskan pelantikan bukan sekadar seremoni pergantian kepengurusan. Menurutnya, jabatan tersebut merupakan amanah untuk menjaga marwah organisasi dan profesi wartawan.
Sri Hartanto menyoroti perubahan pola konsumsi informasi masyarakat akibat disrupsi media. Informasi kini dapat menyebar dalam hitungan detik melalui berbagai platform, namun tidak seluruhnya memiliki tingkat validitas yang sama.
“Kecepatan tidak boleh mengalahkan akurasi, popularitas tidak boleh mengalahkan kebenaran, dan kepentingan sesaat tidak boleh mengalahkan integritas profesi,” tegas Sri Hartanto.
Ia menyebut luasnya wilayah kerja PWI Surakarta yang mencakup Solo Raya, yakni Surakarta, Sukoharjo, Boyolali, Karanganyar, Sragen, Wonogiri, dan Klaten, menjadi tantangan tersendiri bagi kepengurusan baru.
Karena itu, PWI Surakarta akan memperkuat soliditas organisasi sekaligus meningkatkan kompetensi para anggotanya. PWI juga berkomitmen beradaptasi dengan ekosistem media modern dengan tetap menjunjung tinggi kode etik jurnalistik.
PWI Surakarta, lanjut Sri Hartanto, juga akan diarahkan menjadi rumah bersama yang inklusif bagi wartawan untuk belajar, berkembang, dan menjaga kehormatan profesi.
Di sisi lain, Wali Kota Surakarta Respati Ardi menyambut baik terbentuknya kepengurusan baru PWI Surakarta. Ia menilai insan pers memiliki peran strategis dalam membangun ruang publik yang sehat.
“Wartawan memiliki peran yang sangat strategis dalam membangun ruang publik yang sehat, mencerdaskan masyarakat, mengawal transparansi, serta menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat,” ungkap Respati.
Pemkot Solo, kata Respati, membuka ruang komunikasi dan kolaborasi dengan insan pers, dengan tetap menghormati independensi serta profesionalitas media.Ia berharap hubungan antara pemerintah dan pers dapat berjalan secara kritis sekaligus konstruktif.
“Kritik yang disampaikan secara objektif dan berdasarkan data akan menjadi masukan berharga bagi pemerintah untuk terus melakukan evaluasi dan perbaikan,” paparnya.
Pelantikan pengurus PWI Surakarta masa bakti 2026–2031 tersebut turut dihadiri jajaran Forkopimda Jawa Tengah serta Forkopimda Plus se-Solo Raya. Momentum tersebut diharapkan menjadi awal penguatan organisasi dan kolaborasi untuk membangun ekosistem pers yang sehat, kredibel, dan mampu mencerdaskan masyarakat di era digital.
