JSIT Jawa Tengah Bekali Kepala Sekolah Hadapi Era AI, Dorong Sekolah Tak Sekadar Bertahan
Solo – Menjelang dimulainya tahun ajaran baru 2026/2027, Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia Wilayah Jawa Tengah menggelar kegiatan Penguatan Kepala Sekolah dan Guru di Aula SMK Negeri 4 Surakarta, Minggu (12/7). Sebanyak 125 kepala sekolah dan guru mengikuti kegiatan ini untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan sekaligus menyiapkan strategi menghadapi perubahan dunia pendidikan yang semakin dipengaruhi perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial (AI).
Kegiatan ini menitikberatkan pada penguatan kepemimpinan sekolah agar mampu membangun satuan pendidikan yang unggul, adaptif, sekaligus tetap berlandaskan nilai-nilai Islam. Selain itu, peserta juga dibekali kesiapan dalam mengimplementasikan kebijakan pendidikan terbaru, termasuk Pembelajaran Mendalam (PM) dan Koding Kecerdasan Artifisial (KKA).
Ketua JSIT Indonesia Wilayah Jawa Tengah, Hananto Widhiaksono, mengatakan seluruh proses pendidikan harus dikelola secara sistematis, mulai dari perencanaan hingga evaluasi. Menurutnya, momentum tahun ajaran baru menjadi waktu yang tepat bagi setiap sekolah untuk menyusun strategi pembelajaran yang lebih efektif.
“Menyongsong tahun ajaran baru 2026/2027 di satuan pendidikan masing-masing dipersilakan untuk merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, dan merefleksi program-program pendidikan dan pengajaran dengan baik. Termasuk dalam menyukseskan implementasi Pembelajaran Mendalam (PM) dan Koding Kecerdasan Artifisial (KKA),” ujar Hananto.
Sementara itu, Ketua Majelis Tinggi JSIT Indonesia, Prof. Dr. Sukro Muhab, M.Si., dalam materi bertajuk Strategic Thinking: Membangun Sekolah Unggul dan Adaptif, Panduan Praktis Menghadapi Perubahan Zaman, menekankan pentingnya kepemimpinan visioner di tengah perubahan yang berlangsung sangat cepat.
Menurut Prof. Sukro, konsep strategic thinking bukan hal baru. Ia mencontohkan bagaimana Rasulullah Muhammad SAW menjadi sosok teladan dalam menyusun strategi, baik dalam membangun peradaban maupun menghadapi berbagai tantangan.
“Sosok inspiratif dalam Strategic Thinking adalah Baginda Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Strategi mengubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat berperadaban. Strategi dalam berperang, salah satunya dengan membuat parit,” paparnya.
Ia menjelaskan, sekolah yang ingin terus berkembang harus memiliki arah yang jelas sekaligus mampu beradaptasi terhadap perubahan. Menurutnya, terdapat lima pilar utama yang perlu dibangun, yakni visi yang kuat, analisis SWOT, fokus pada kompetensi inti, manajemen perubahan dan resiliensi, serta kolaborasi dengan berbagai pihak.
“Pimpinan sekolah dalam membangun sekolah unggul dan adaptif harus menetapkan Strategic Thinking. Supaya sekolah memiliki keunggulan yang menjadi pembeda dan daya tarik serta mampu beradaptasi menyesuaikan perubahan zaman yang ada,” jelasnya.
Prof. Sukro menambahkan, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial menjadi tantangan yang tidak bisa dihindari oleh dunia pendidikan. Karena itu, sekolah dituntut menyiapkan lulusan yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perubahan dunia kerja di masa depan.
Ia menilai era modern menghadirkan tantangan berupa otomatisasi, derasnya arus informasi, hingga fenomena burnout akibat tingginya intensitas penggunaan gawai. Kondisi tersebut, kata dia, menuntut sekolah untuk terus berinovasi agar tetap relevan.
“Tantangan era modern memaksa kita untuk berubah. Adanya artifisial inteligen dan otomatisasi, era VUCA, serta arus informasi yang sangat deras. Sekolah unggul dan adaptif akan mampu menjawab tantangan yang ada,” pungkas Prof. Sukro.
Melalui kegiatan ini, JSIT Jawa Tengah berharap para kepala sekolah dan guru memiliki bekal kepemimpinan strategis untuk mengembangkan sekolah yang inovatif, adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus mampu mencetak generasi yang berkarakter dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Laporan : Chabib Taslim
