Sabtu, 08 Agu, 2026

Marsella Wahyu Muntia, Peraih Kalpataru Yuvan Termuda yang Mengubah Lahan Kritis Jadi Harapan

Sragen – Ketertarikan Marsella Wahyu Muntia terhadap lingkungan tidak lahir dari sebuah prestasi, melainkan dari rasa penasaran seorang siswi SMP. Saat sekolahnya mengikuti penilaian Adiwiyata, ia mulai bertanya pada dirinya sendiri, apakah kepedulian terhadap lingkungan hanya sebatas memenuhi kebutuhan lomba atau bisa diwujudkan menjadi gerakan yang lebih besar.

Pertanyaan sederhana itu menjadi titik awal perjalanan perempuan yang akrab disapa Sella tersebut. Kini, di usianya yang baru 18 tahun, warga Desa Gesi, Kecamatan Gesi, Kabupaten Sragen itu tercatat sebagai penerima pertama sekaligus termuda penghargaan Kalpataru Yuvan 2026 dari Kementerian Lingkungan Hidup.

“Saat SMP ada penilaian Adiwiyata. Dari situ saya penasaran, apa peduli lingkungan cuma berhenti di penilaian saja atau bisa dilanjutkan di luar sekolah. Akhirnya saya mulai ikut kegiatan, kenal banyak orang, lalu membangun komunitas,” kata Sella saat ditemui.

Perjalanan itu tidak langsung mulus. Ketika mulai mengajak teman-temannya bergabung, hanya sedikit yang bersedia ikut. Namun ia memilih tetap bergerak. Sedikit demi sedikit, jumlah relawan bertambah hingga akhirnya pada 2023 ia bersama beberapa rekannya mendirikan Warsa Kelana (Wadah Aksi Remaja Sadar Kelestarian Alam Nusantara).

Bagi Sella, relasi yang ia bangun sejak aktif di Pramuka semasa SMP menjadi modal penting untuk mengembangkan komunitas tersebut.

“Dulu saya aktif Pramuka sampai ikut kegiatan di Jakarta, Semarang, dan daerah lain. Saya berpikir, relasi yang sudah saya punya jangan cuma sebatas kenal. Akhirnya saya manfaatkan untuk kegiatan lingkungan,” ujarnya.

Pilihan itu sempat membuat kedua orang tuanya bertanya-tanya. Sebab, tidak ada latar belakang keluarga yang berkecimpung di bidang lingkungan. Ayah dan ibunya sama-sama bekerja sebagai karyawan swasta.

“Awalnya orang tua bilang jangan terlalu berharap dari kegiatan lingkungan. Tapi saya terus menjelaskan kenapa lingkungan itu penting. Lama-lama mereka mengerti dan akhirnya mendukung, walaupun kadang kegiatan dilakukan saat hari libur,” katanya sambil tersenyum.

Keseriusannya dalam menjaga lingkungan diwujudkan melalui berbagai program nyata. Bersama Warsa Kelana, Sella menginisiasi restorasi lahan kritis melalui penanaman ratusan pohon, pembuatan ratusan lubang biopori, hingga mengembangkan pupuk organik Savio yang memanfaatkan limbah kotoran ternak milik warga.

Menurutnya, program pupuk organik menjadi salah satu kegiatan yang paling memberi dampak langsung bagi masyarakat Desa Gesi yang mayoritas berprofesi sebagai petani dan peternak.

“Daripada kotoran sapi hanya ditumpuk dan menimbulkan bau, kami belajar cara mengolahnya menjadi pupuk organik. Setelah itu kami mengajak warga membuatnya bersama-sama. Hasilnya bisa dipakai lagi untuk lahan mereka sendiri,” jelasnya.

Proses tersebut tidak ia lakukan sendirian. Sella mengaku belajar langsung kepada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sragen melalui berbagai pelatihan dan workshop sebelum akhirnya membagikan pengetahuan itu kepada masyarakat.

“Saya datang ke DLH karena ingin belajar. Setelah paham, baru kami sosialisasikan ke warga supaya mereka juga bisa membuat sendiri,” ungkapnya.

Konsistensi itulah yang kemudian mengantarkan namanya diusulkan oleh Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah sebagai calon penerima Kalpataru Yuvan. Penghargaan tersebut bukan melalui pendaftaran mandiri, melainkan melalui proses rekomendasi, seleksi administrasi, wawancara, hingga verifikasi lapangan oleh tim Kementerian Lingkungan Hidup.

“Pengusul saya dari DLH Provinsi Jawa Tengah karena kami memang sering berkolaborasi dalam berbagai kegiatan. Setelah itu masuk tiga besar nasional, lalu ada wawancara, verifikasi lapangan, sampai akhirnya dinyatakan menerima Kalpataru Yuvan,” tuturnya.

Meski kini telah menerima penghargaan tingkat nasional dan menjadi mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Sella mengaku penghargaan tersebut bukan akhir dari perjalanannya.

Baginya, tantangan terbesar bukan sekadar menanam pohon, melainkan menjaga agar gerakan peduli lingkungan terus hidup dan melibatkan semakin banyak anak muda.

“Kalau lingkungan itu sebenarnya bukan soal usia. Yang penting ada kemauan untuk mulai bergerak. Semoga semakin banyak generasi muda yang mau ikut menjaga lingkungan, karena perubahan itu selalu dimulai dari langkah kecil,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *