Sabtu, 08 Agu, 2026

Merawat Orangutan, Merawat Harapan: Perjalanan Rara di Pusat Rehabilitasi Satwa BORA

Berau, Kalimantan Timur – Setiap pagi, ketika sebagian orang baru memulai aktivitas, Rahmahwati Nurazizah atau Rara sudah bersiap menyambut “anak-anak” nya. Bukan bayi manusia, melainkan bayi orangutan yang kehilangan induknya akibat perburuan maupun kerusakan hutan.

Tangisan itu bergantian terdengar sepanjang hari. Ada yang merengek minta digendong, ada yang mencari rasa aman, ada pula yang sekadar ingin ditemani. Begitulah hari-hari pertama Rara sebagai animal keeper di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance), pusat rehabilitasi orangutan di bawah Centre for Orangutan Protection (COP), sejak bergabung pada Oktober 2023.

Perempuan lulusan Peternakan itu mengaku tak pernah membayangkan bahwa kecintaannya terhadap satwa liar akan membawanya menjadi salah satu perempuan yang dipercaya merawat orangutan hingga siap kembali ke habitatnya.

“Awalnya memang saya sangat suka dengan satwa, khususnya satwa liar dan isu-isu konservasi. Pertemuan saya dengan orangutan berawal dari menonton film dokumenter, membaca buku cerita, hingga kisah perjalanan para konservasionis,” ujar Rara.

Ketertarikannya semakin besar setelah aktif mengikuti berbagai konten organisasi konservasi di media sosial. Saat melihat Centre for Orangutan Protection membuka kesempatan berkarier, ia pun memberanikan diri mendaftar.

“Alhamdulillah saya diterima dan sampai sekarang masih menjadi bagian dari BORA. Menjadi perempuan yang bisa mendampingi orangutan hingga siap dilepasliarkan adalah pengalaman yang paling berkesan dalam hidup saya,” katanya.

Tangisan yang Tak Pernah Berhenti

Pada awal kariernya, Rara bertugas sebagai perawat bayi orangutan. Rutinitas itu membuatnya datang paling pagi dan pulang paling sore. Namun yang paling membekas bukanlah panjangnya jam kerja, melainkan suara tangisan yang hampir tak pernah berhenti.

“Selama seharian bekerja, saya tidak pernah sekalipun mendengar tangisan yang berhenti. Bayi-bayi orangutan ini bergantian menangis, merengek minta digendong, manja, ingin ditemani. Repot, senang, bangga, sampai kesal, semuanya bercampur menjadi satu,” kenangnya.

Meski melelahkan, Rara justru menyebut masa itu sebagai pengalaman yang sangat membahagiakan.

“Saya melihat mereka begitu aktif dan punya semangat besar untuk tumbuh. Itu sesuatu yang membuat saya bangga.” kata Rara

Sejak 2026, tanggung jawabnya semakin besar. Ia tak lagi hanya merawat bayi orangutan, tetapi mengawasi perawatan seluruh individu orangutan yang menjalani rehabilitasi di BORA.

Belajar dari Orangutan

Bagi sebagian orang, pusat rehabilitasi identik dengan kisah sedih. Namun bagi Rara, tempat itu justru dipenuhi pelajaran tentang harapan. Setiap hari ia menyaksikan orangutan yang kehilangan rumah, terluka, bahkan mengalami trauma, perlahan belajar kembali memanjat pohon, mencari makan, hingga membangun kepercayaan diri untuk hidup mandiri.

“Saya tidak melihat sesuatu yang menyedihkan di pusat rehabilitasi. Justru saya belajar banyak dari orangutan. Mereka mengajarkan bahwa proses itu panjang dan tidak apa-apa. Rehabilitasi bisa memakan waktu bertahun-tahun, tetapi mereka terus berusaha.” ujarnya.

Selama merawat orangutan, Rara mengaku hampir selalu memiliki ikatan emosional dengan setiap individu yang ditemuinya. Baginya, tidak ada satu orangutan yang paling spesial karena masing-masing memiliki kisah perjuangan yang berbeda.

“Saya tidak bisa menyebut satu individu saja. Setiap orangutan yang saya rawat punya ceritanya sendiri dan punya tempat tersendiri di hati saya.” katanya.

Tiga Orangutan, Tiga Pelajaran Kehidupan

Pengalaman itu kemudian dituangkan Rara dalam tulisan berjudul “Sebuah Pesan dari Tiga Orangutan”, yang mengisahkan perjalanan rehabilitasi Eboni, Bagus, dan Ruby sebelum akhirnya dilepasliarkan ke hutan.

Eboni mengajarkannya tentang keberanian menghadapi trauma setelah ditemukan dengan dua peluru bersarang di tubuhnya. Bagus menunjukkan bahwa seseorang tidak harus menjadi yang paling menonjol untuk mampu bertahan hidup.

Sementara Ruby menjadi simbol kegigihan setelah bertahun-tahun hidup terbelenggu rantai, tetapi akhirnya mampu kembali belajar memanjat pohon dan menjalani kehidupan liar. Bagi Rara, proses pelepasliaran bukan sekadar memindahkan satwa dari kandang ke hutan.

“Itu adalah akhir dari perjalanan panjang rehabilitasi sekaligus awal kehidupan baru yang memang seharusnya menjadi milik mereka.” jelas Rara.

Rumah yang Harus Tetap Terjaga

Di balik keberhasilan pelepasliaran, Rara menyimpan harapan yang jauh lebih besar. Ia ingin orangutan tetap hidup bebas tanpa ancaman di habitat aslinya. Namun menurutnya, harapan itu tidak mungkin terwujud tanpa dukungan masyarakat.

“Saya berharap orangutan tetap lestari dan hidup tanpa ancaman di rumahnya, yaitu hutan. Tapi itu juga harus sejalan dengan kesadaran masyarakat bahwa usaha sekecil apa pun untuk menjaga lingkungan itu sangat berarti.” kata Rara.

Rara mengapresiasi semakin banyak orang yang mulai peduli terhadap isu konservasi. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa perjuangan menjaga orangutan bukanlah tugas segelintir aktivis. Baginya, kekuatan terbesar konservasi justru berada di tangan masyarakat.

“Jangan pernah berpikir usaha sekecil apa pun itu sia-sia. Orangutan tidak bisa dilestarikan sendirian. Kami di Centre for Orangutan Protection juga tidak bisa bekerja sendiri. Kami membutuhkan dukungan semua orang.

“Semoga kepedulian menjaga hutan sebagai rumah orangutan terus meningkat. Mungkin kita tidak bisa mengubah bumi menjadi jauh lebih baik dalam waktu singkat, tetapi setidaknya kita bisa memperpanjang usia bumi agar anak cucu kita nanti masih bisa menikmati hutan yang hijau dan kehidupan satwa liar yang lestari.” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *