Jumat, 30 Okt, 2026

Dari Lilin di Solo Menuju Gerakan Nasional, GSI Ajak Pemuda Ubah Keresahan Jadi Aksi Nyata

Solo – Keresahan generasi muda terhadap berbagai persoalan bangsa dinilai perlu diubah menjadi gerakan nyata, bukan berhenti pada kritik dan pernyataan sikap. Semangat itulah yang dibawa Gerakan Solusi Indonesia (GSI) melalui Malam Refleksi Menuju 100 Tahun Sumpah Pemuda di Tugu Lilin, Penumping, Laweyan, Kota Solo, Selasa (27/10/2026) malam.

Ketua Dewan Pembina GSI, Prof. Dr. Pujiyono Suwandi, mengatakan tantangan gerakan kepemudaan saat ini adalah menghimpun lebih banyak anak muda agar terlibat dalam aksi bersama. Menurutnya, perubahan tidak harus dimulai dari langkah besar, tetapi dari kontribusi kecil yang dilakukan secara kolektif.

“Sekecil apa pun gerakannya, ketika dilakukan bersama-sama, akan memiliki daya yang besar. Pemuda yang sudah bergerak harus mengajak mereka yang belum bergerak. Jangan sampai semangat hanya dimiliki oleh sebagian anak muda,” kata Pujiyono.

Ia menegaskan, gerakan pemuda tidak seharusnya diukur dari seberapa lantang seseorang menyampaikan pendapat. Kritik, aspirasi, hingga tindakan sederhana memiliki arti selama disertai kemauan untuk berbuat.

“Yang bersuara nyaring boleh, yang kurang nyaring harus dihargai. Bahkan, yang hanya berbisik pun harus dihargai. Yang kita tunggu bukan sekadar siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang mau berbuat dan bertindak,” ujarnya.

Pujiyono menjelaskan, GSI ingin menjadi penghubung bagi berbagai kelompok pemuda, termasuk mempertemukan mereka yang memiliki sumber daya dengan pihak yang membutuhkan dukungan. Dengan cara itu, potensi anak muda diharapkan dapat saling menguatkan dan menghasilkan manfaat bagi masyarakat.

“GSI bukan Sinterklas yang datang untuk membagikan sesuatu. Kami ingin menjadi penghubung, menyambungkan mereka yang memiliki semangat dengan yang perlu didorong, serta mempertemukan yang punya dengan yang membutuhkan,” jelasnya.

Wali Kota Solo, Respati Ardi, turut mendorong generasi muda agar menjadikan keresahan sebagai titik awal untuk menghadirkan solusi. Menurutnya, aspirasi anak muda perlu didengarkan, tetapi harus dilanjutkan dengan aksi yang berdampak bagi lingkungan sekitar.

“Pemuda adalah solusi. Keresahan anak muda hari ini harus didengarkan, tetapi jangan berhenti pada menyampaikan pendapat. Pemuda harus bisa bergerak, memberikan manfaat, dan menghadirkan dampak bagi lingkungan sekitarnya,” kata Respati.

Respati juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan pandangan. Ia menilai generasi muda perlu membekali diri dengan ilmu pengetahuan dan adab agar mampu menjadi calon pemimpin yang menjaga kerukunan serta tidak mudah terpecah belah.

Sementara itu, CEO GSI, Hendry Tri Asmoro, menyebut refleksi di Tugu Lilin merupakan langkah awal untuk memperluas gerakan kepemudaan dari Solo ke tingkat nasional. Setelah kegiatan tersebut, GSI berencana menyalakan obor di kawasan Manahan pada 8 November 2026 dengan melibatkan sejumlah elemen dan figur anak muda.

“Sekarang kami mulai dari lilin di Solo. Berikutnya, pada 8 November, kami akan menyalakan obor di Manahan. Setelah itu, gerakan ini akan terus kami gaungkan agar semakin banyak anak muda terlibat dan menjadi bagian dari solusi bagi Indonesia Emas,” kata Hendry.

GSI saat ini mulai menjalankan kegiatan kepemudaan di sejumlah kabupaten di Jawa Tengah. Pada 2027, gerakan direncanakan meluas ke Jakarta dan Jawa Timur sebelum menjangkau wilayah lain. Puncak gerakan menuju satu abad Sumpah Pemuda pada 2028 ditargetkan berlangsung secara nasional di kawasan Senayan, Jakarta.

Pemilihan Tugu Lilin sebagai lokasi refleksi juga membawa pesan sejarah. Monumen yang dibangun pada 1933 untuk memperingati 25 tahun Kebangkitan Nasional itu menjadi simbol persatuan, dengan material tanah dari berbagai penjuru Nusantara yang digunakan dalam pembangunannya.

Melalui kegiatan ini, GSI ingin menghidupkan kembali semangat persatuan yang lahir dari Sumpah Pemuda 1928 dalam konteks tantangan masa kini. Kolaborasi, penghargaan terhadap perbedaan, dan keberanian mengambil tindakan diharapkan menjadi bekal generasi muda untuk menghadapi persoalan sosial, lingkungan, dan disrupsi teknologi.

Menjelang 100 tahun Sumpah Pemuda pada 2028, GSI mendorong anak muda tidak hanya mengenang sejarah persatuan, tetapi juga menerjemahkannya melalui kontribusi nyata untuk masyarakat dan masa depan Indonesia menuju 2045.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

STANDBY
Persada FM 102.2 MHz