Kartu Pos Jadi Media Kreatif Siswa SD Bromantakan Tanamkan Semangat Sumpah Pemuda
Solo – Sekitar 100 siswa SD Negeri Bromantakan Surakarta menuangkan semangat persatuan dan cinta tanah air melalui karya gambar bertema Sumpah Pemuda di kawasan pedestrian Ngarsopuro, Solo, Selasa (27/10/2026). Menggunakan kartu pos sebagai media gambar, para siswa diajak mengenal nilai-nilai kebangsaan melalui aktivitas kreatif di ruang publik.
Kegiatan yang diinisiasi Komunikotavisual bersama SD Negeri Bromantakan Surakarta ini melibatkan siswa kelas IV hingga VI. Dengan menggunakan pastel, spidol, dan pensil warna, mereka menuangkan beragam ide dan pesan kebangsaan ke dalam selembar kartu pos.
Setelah selesai, kartu-kartu pos tersebut dipajang dengan cara digantung pada tali di ruang publik. Deretan karya itu menjadi semacam galeri terbuka yang mempertemukan kreativitas para siswa. Mereka juga tampak melihat karya teman-temannya hingga berdiskusi mengenai gambar bertema Sumpah Pemuda yang dibuat.
Anggota Komunikotavisual, Evy Widyaningsih, mengatakan kegiatan ini menjadi media alternatif bagi siswa untuk mengekspresikan diri dan menuangkan gagasan melalui aktivitas menggambar.
Melalui pendekatan tersebut, nilai nasionalisme dan sejarah Sumpah Pemuda diharapkan dapat dikenalkan dengan cara yang menyenangkan. Siswa tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman berkarya dan berinteraksi di ruang publik.
Kepala SD Negeri Bromantakan Surakarta, Faridha Isnaini, mengapresiasi antusiasme para siswa dalam mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, menggambar kartu pos menjadi wadah bagi anak-anak untuk mengembangkan kreativitas sekaligus mengekspresikan rasa cinta tanah air dan semangat persatuan.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan untuk membentuk generasi muda yang kreatif, percaya diri, berkarakter, menghargai keberagaman, serta menjunjung tinggi nilai persatuan.
Peringatan Sumpah Pemuda melalui media kartu pos ini menjadi salah satu cara untuk mendekatkan nilai-nilai kebangsaan kepada anak-anak. Melalui karya sederhana, para siswa diajak memahami bahwa semangat persatuan yang dicetuskan para pendiri bangsa pada 28 Oktober 1928 tetap relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
