Respati Dorong UMKM Solo Berani Bidik Pasar Premium
Solo – Today 10:06 AM
Kota Surakarta Terpilih sebagai Lokasi Studi Internasional Pengelolaan Sampah Pangan FAO dan ICLEI SURAKARTA, 21 September 2026 – Kota Surakarta kembali mendapat perhatian di tingkat internasional dalam upaya pengelolaan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Pemerintah Kota Surakarta menjadi salah satu lokasi studi regional yang dilakukan oleh ICLEI (International Council for Local Environmental Initiatives) bersama Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO). Kunjungan studi yang berlangsung pada 21–23 September 2026 ini bertujuan mempelajari dan mendokumentasikan berbagai praktik pengelolaan susut dan sisa pangan atau food loss and waste (FLW) yang telah dikembangkan di Kota Surakarta. Pada hari pertama kunjungan, Senin (21/9), tim ICLEI dan FAO diterima oleh Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surakarta, Urip Jatmiko, S.H., M.M. Kegiatan dilanjutkan dengan audiensi dan Focus Group Discussion (FGD) bersama sejumlah perangkat daerah serta organisasi masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan sampah pangan di Kota Surakarta. Surakarta terpilih sebagai salah satu kota percontohan di Asia dalam studi regional bertajuk “Praktik Terbaik Pengelolaan Sampah Makanan di Kota-Kota Asia: Analisis Regional”. Melalui studi ini, tim ICLEI dan FAO akan melihat secara langsung bagaimana pengelolaan sampah pangan dilakukan dari tingkat sumber hingga tahap akhir. Berbagai praktik yang berkembang di Surakarta menjadi bagian yang dipelajari, mulai dari penguatan jaringan bank sampah, pengomposan berbasis komunitas, pemanfaatan sampah organik melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF), hingga kolaborasi masyarakat dalam kegiatan berbagi pangan. Kepala DLH Kota Surakarta, Herwin Tri Nugroho Adi, S.STP., M.H., menyampaikan apresiasi atas dipilihnya Surakarta sebagai salah satu lokasi studi tingkat regional. “Kami menyambut baik kehadiran tim ICLEI dan FAO. Penunjukan ini menjadi motivasi sekaligus sarana evaluasi bagi Pemkot Surakarta untuk terus memperkuat strategi pengelolaan sampah organik, mulai dari hulu hingga hilir,” ujar Herwin. Hasil studi tersebut nantinya akan dipublikasikan dalam Kompendium Regional yang diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran dan referensi bagi kota-kota lain di Asia dalam mengembangkan pengelolaan sampah pangan yang lebih efektif dan berkelanjutan. Menelusuri Pengelolaan Sampah dari Hulu hingga Hilir Selama tiga hari, tim ICLEI dan FAO akan mengunjungi sejumlah lokasi serta berdiskusi dengan berbagai pihak yang terlibat dalam pengelolaan sampah pangan di Kota Surakarta. Pada Senin (21/9), selain audiensi dan FGD, tim melakukan observasi di Pasar Gede dan Pasar Jebres untuk melihat pengelolaan sampah pangan di pasar tradisional serta berdiskusi dengan pengelola pasar dan pedagang grosir. Kunjungan dilanjutkan ke bank sampah yang mengembangkan pemanfaatan sampah organik melalui budidaya maggot BSF. Pada Selasa (22/9), tim akan mengunjungi Kelurahan Gajahan untuk melihat praktik pemilahan sampah organik langsung dari sumbernya, yaitu rumah tangga. Selanjutnya, tim akan berdiskusi dengan Hotel Alila Solo terkait pengelolaan timbulan sampah pangan di sektor perhotelan, termasuk kegiatan food sharing yang dilakukan melalui kerja sama dengan PMI. Pertemuan juga dilakukan bersama Yayasan Gita Pertiwi untuk menggali lebih jauh peran masyarakat dalam pengelolaan sampah pangan. Sementara pada Rabu (23/9), tim akan meninjau proses pengelolaan sampah pada tahap akhir di TPA maupun fasilitas pengolahan sampah terpadu. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan evaluasi bersama di Kantor DLH Kota Surakarta. Keterlibatan berbagai unsur, mulai dari pemerintah, masyarakat, komunitas, sektor swasta hingga organisasi masyarakat sipil, menjadi bagian penting dalam pengelolaan sampah pangan di Surakarta. Melalui kunjungan studi ini, Pemerintah Kota Surakarta berharap berbagai praktik yang telah dikembangkan dapat terus diperkuat sekaligus menjadi pembelajaran bersama. Di sisi lain, studi ini juga menjadi kesempatan bagi Surakarta untuk berbagi pengalaman pengelolaan sampah pangan dengan kota-kota lain di Asia melalui jejaring internasional.
Surakarta Jadi Lokasi Studi FAO dan ICLEI soal Pengelolaan Sampah Pangan di Asia
SOLO – Kota Surakarta terpilih sebagai salah satu lokasi studi regional yang dilakukan Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) bersama ICLEI (International Council for Local Environmental Initiatives) terkait pengelolaan susut dan sisa pangan atau food loss and waste (FLW).
Studi tersebut berlangsung selama tiga hari, 21–23 September 2026. Tim FAO dan ICLEI datang untuk mempelajari sekaligus mendokumentasikan berbagai praktik pengelolaan sampah pangan yang telah dikembangkan di Kota Surakarta.
Surakarta menjadi salah satu kota percontohan di Asia dalam studi regional bertajuk “Praktik Terbaik Pengelolaan Sampah Makanan di Kota-Kota Asia: Analisis Regional”. Melalui studi ini, pengelolaan sampah pangan di Surakarta dipelajari mulai dari tingkat sumber hingga tahap akhir.
Pada hari pertama, Senin (21/9), tim ICLEI dan FAO diterima Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surakarta, Urip Jatmiko. Kegiatan dilanjutkan dengan audiensi dan Focus Group Discussion (FGD) bersama sejumlah perangkat daerah dan organisasi masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan sampah pangan.
Sejumlah praktik yang menjadi perhatian dalam studi tersebut antara lain penguatan jaringan bank sampah, pengomposan berbasis komunitas, pemanfaatan sampah organik melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF), hingga kolaborasi masyarakat dalam kegiatan berbagi pangan.
Kepala DLH Kota Surakarta, Herwin Tri Nugroho Adi, menyambut baik dipilihnya Surakarta sebagai salah satu lokasi studi tingkat regional.
“Kami menyambut baik kehadiran tim ICLEI dan FAO. Penunjukan ini menjadi motivasi sekaligus sarana evaluasi bagi Pemkot Surakarta untuk terus memperkuat strategi pengelolaan sampah organik, mulai dari hulu hingga hilir,” ujar Herwin.
Telusuri Pengelolaan Sampah dari Pasar hingga TPA
Selama tiga hari, tim ICLEI dan FAO mengunjungi sejumlah lokasi untuk melihat secara langsung praktik pengelolaan sampah pangan sekaligus berdiskusi dengan para pihak yang terlibat.
Pada Senin (21/9), tim mengunjungi Pasar Gede dan Pasar Jebres untuk melihat pengelolaan sampah pangan di pasar tradisional. Tim juga berdiskusi dengan pengelola pasar dan pedagang grosir sebelum melanjutkan kunjungan ke bank sampah yang memanfaatkan sampah organik untuk budidaya maggot BSF.
Selanjutnya, pada Selasa (22/9), tim dijadwalkan mengunjungi Kelurahan Gajahan untuk melihat praktik pemilahan sampah organik dari sumbernya, yakni rumah tangga.
Kunjungan kemudian dilanjutkan ke Hotel Alila Solo untuk mempelajari pengelolaan sampah pangan di sektor perhotelan, termasuk kegiatan food sharing yang dilakukan melalui kerja sama dengan PMI.
Tim juga akan berdiskusi dengan Yayasan Gita Pertiwi untuk menggali peran masyarakat dalam pengelolaan sampah pangan.
Sementara pada Rabu (23/9), tim akan meninjau pengelolaan sampah pada tahap akhir di TPA maupun fasilitas pengolahan sampah terpadu. Rangkaian studi kemudian ditutup dengan evaluasi bersama di Kantor DLH Kota Surakarta.
Hasil studi tersebut nantinya akan dituangkan dalam Kompendium Regional yang diharapkan menjadi bahan pembelajaran bagi kota-kota lain di Asia dalam mengembangkan sistem pengelolaan sampah pangan yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Pemkot Surakarta menilai keterlibatan pemerintah, masyarakat, komunitas, sektor swasta, dan organisasi masyarakat sipil menjadi bagian penting dalam membangun pengelolaan sampah pangan dari hulu hingga hilir.
Melalui studi ini, Surakarta tidak hanya menjadi lokasi pembelajaran, tetapi juga memiliki kesempatan untuk berbagi pengalaman pengelolaan sampah pangan dengan kota-kota lain di Asia melalui jejaring internasional.
Respati Dorong UMKM Solo Berani Bidik Pasar Premium Wali Kota Solo, Respati Ardi mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Solo untuk berani meningkatkan kapasitas usaha dengan membidik pasar premium. Menurutnya, dengan meningkatkan kualitas, produk UMKM akan dapat lebih bernilai dibandingkan dengan produk biasa yang hanya berfokus pada memperbanyak jumlahnya. Hal tersebut disampaikan Respati saat melaunching Beli Lokal x Pilihan BuSan oleh Tokopedia bersama Menteri Perdagangan, Budi Santoso pada Senin (21/9/2026). Dalam kesempatan itu, Respati mengatakan jika strategi penguatan fundamental ekonomi Kota Solo saat ini menggunakan konsep Pareto 80:20. Skema yang digunakan yakni 80 persen akan ditangani Pemkot Solo dengan melakukan intervensi mendukung masyarakat pada segmen ekonomi massal melalui berbagai program, seperti festival UMKM, pasar rakyat, hingga penyelenggaraan konser dan penyediaan akses publik. Lalu pada 20 persen, dia mengajak para pelaku usaha dapat berani mengambil peran dengan menyasar konsumen yang memiliki daya beli lebih tinggi melalui strategi up selling dan menyasar top spenders. Menurutnya, pelaku usaha harus mulai optimis meningkatkan harga jual dengan diimbangi peningkatan kualitas produk. Strategi tersebut dapat dilakukan dengan menaikkan kualitas maupun memperkuat nilai produk dan tidak hanya menaikan kuantitas saja. “Mulai berani berjualan mahal, dengan menaikan sedikit kualitas, kuantitas kita tekan sehingga konsep 80:20 ini menjadi nyata,” ujar Respati. Konsep ini juga sejalan dengan rencana Solo sebagai wellness city pada 2030. Pelaku usaha mesti memahami adanya perubahan perilaku konsumen dan pergeseran pasar sehingga produk lokal tidak hanya menyasar konsumen dengan daya beli massal. Dan salah satu dukungan yang sudah disiapkan adalah menyiapkan sejumlah fasilitas bagi pelaku usaha yang ingin memulai atau mengembangkan usahanya di pasar tradisional. Salah satunya program bersama Dinas Perdagangan dengan memberikan kesempatan bagi pelaku usaha untuk menggunakan kios pasar yang sepi selama enam bulan secara gratis. “Jika laku mulai bayar kalau belum tidak usah. Kita siapkan Pasar Jongke dan Klewer, kita memastikan untuk dapat etalasenya dulu,” jelasnya. Di sisi lain, Respati juga mengingatkan pentingnya kemampuan pelaku usaha untuk membangun nilai jual sebuah produk. Menurutnya, produk dapat memiliki nilai ekonomi lebih tinggi ketika dikemas dan dinarasikan melalui konten yang menarik. “Saya yakin Kota Solo punya kemampuan dan talenta luar biasa. Saya ingatkan untuk rekan pelaku usaha di Solo, set target bukan hanya warga Solo, tapi Jakarta, Semarang, Bandung dan Surabaya,” terangnya. Sementara itu, Menteri Perdagangan, Budi Santoso menyebut, banyak sekali produk-produk UMKM yang bisa naik kelas. Dia juga mengingatkan kepada pelaku usaha untuk dapat membranding brandnya dengan baik agar dapat dikenal secara luas. “Tadi disampaikan pak Wali Kota, ada banyak produk luar biasa yang mudah membranding produk kita. Dan dengan digitalisasi akan mudah ditemukan oleh para konsumen kita baik di dalam negeri maupun luar negeri,” tandasnya.
Respati Dorong UMKM Solo Berani Bidik Pasar Premium
SOLO – Wali Kota Solo Respati Ardi mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk berani meningkatkan kualitas produk dan membidik konsumen dengan daya beli lebih tinggi.
Menurut Respati, UMKM tidak cukup hanya mengejar peningkatan jumlah produksi. Pelaku usaha perlu meningkatkan kualitas sekaligus membangun nilai produk agar mampu masuk ke pasar premium dengan harga jual yang lebih tinggi.
Hal tersebut disampaikan Respati saat meluncurkan Beli Lokal x Pilihan BuSan oleh Tokopedia bersama Menteri Perdagangan Budi Santoso, Senin (21/9/2026).
Respati mengatakan, penguatan fundamental ekonomi Kota Solo saat ini menggunakan konsep Pareto 80:20. Sebanyak 80 persen akan ditangani Pemkot Solo melalui berbagai intervensi untuk mendukung segmen ekonomi massal.
Program tersebut di antaranya festival UMKM, pasar rakyat, penyelenggaraan konser, hingga penyediaan akses publik. Sementara 20 persen lainnya diarahkan agar pelaku usaha berani menyasar konsumen dengan daya beli lebih tinggi.
Strategi tersebut dapat dilakukan melalui up selling maupun dengan membidik konsumen yang memiliki tingkat belanja tinggi atau top spenders.
“Mulai berani berjualan mahal, dengan menaikan sedikit kualitas, kuantitas kita tekan sehingga konsep 80:20 ini menjadi nyata,” ujar Respati.
Ia menilai peningkatan harga jual harus diikuti dengan peningkatan kualitas dan nilai produk. Dengan demikian, UMKM tidak hanya mengandalkan kuantitas produksi, tetapi juga mampu menciptakan produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Konsep tersebut, lanjut Respati, juga sejalan dengan rencana Kota Solo menuju wellness city pada 2030. Pelaku usaha dinilai perlu memahami perubahan perilaku konsumen dan pergeseran pasar agar produk lokal dapat menjangkau segmen konsumen yang lebih luas.
Pemkot Siapkan Kios Pasar Gratis
Untuk mendukung UMKM mengembangkan pasar, Pemkot Solo juga menyiapkan sejumlah fasilitas bagi pelaku usaha yang ingin memulai maupun mengembangkan usahanya di pasar tradisional.
Salah satunya melalui program bersama Dinas Perdagangan dengan memberikan kesempatan kepada pelaku usaha untuk memanfaatkan kios pasar yang sepi selama enam bulan secara gratis.
Respati menyebut Pasar Jongke dan Pasar Klewer menjadi salah satu lokasi yang disiapkan untuk program tersebut.
“Jika laku mulai bayar kalau belum tidak usah. Kita siapkan Pasar Jongke dan Klewer, kita memastikan untuk dapat etalasenya dulu,” jelasnya.
Selain kualitas produk, Respati menekankan pentingnya kemampuan pelaku UMKM membangun nilai jual melalui kemasan dan narasi produk. Konten yang menarik dinilai dapat membantu produk lokal lebih mudah dikenal konsumen.
Ia pun mendorong pelaku UMKM Solo tidak hanya membidik pasar lokal, tetapi mulai menetapkan target konsumen di kota-kota lain.
“Saya yakin Kota Solo punya kemampuan dan talenta luar biasa. Saya ingatkan untuk rekan pelaku usaha di Solo, set target bukan hanya warga Solo, tapi Jakarta, Semarang, Bandung dan Surabaya,” terangnya.
Mendag Dorong UMKM Perkuat Branding
Sementara itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan banyak produk UMKM yang memiliki potensi untuk naik kelas. Menurutnya, penguatan branding menjadi salah satu langkah penting agar produk lokal dapat dikenal lebih luas.
“Tadi disampaikan Pak Wali Kota, ada banyak produk luar biasa yang mudah membranding produk kita. Dan dengan digitalisasi akan mudah ditemukan oleh para konsumen kita baik di dalam negeri maupun luar negeri,” tandas Budi.
Ia menilai pemanfaatan digitalisasi dapat membantu pelaku UMKM memperluas jangkauan pasar, baik di tingkat nasional maupun internasional.
