Syekaten 2026 Catat Transaksi UMKM Rp10,3 Miliar, Ada Booth Tukar Koin Bonus Minyak
Solo – Uang logam yang selama ini kerap dianggap sepele ternyata masih memiliki nilai ekonomi yang cukup besar. Hal itu terlihat dalam layanan penukaran uang logam yang dibuka Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Solo dalam rangkaian Gema Syiar Sekaten (Syiar Ekonomi Syariah dan Pesantren) 2026 yang berlangsung pada 28-30 Agustus 2026.
Selama dua hari pertama pelaksanaan, Jumat-Sabtu (28-29/8/2026), masyarakat menukarkan uang logam dengan total nilai sekitar Rp15 juta. Jumlah tersebut berasal dari puluhan ribu keping uang logam yang dikumpulkan warga dari berbagai sumber, mulai dari celengan hingga uang kembalian belanja.
Administrator Perkasan Unit Implementasi Pengelolaan Uang Rupiah BI Solo, Muhammad Faisal Fahmi, mengatakan pada hari pertama terkumpul sekitar Rp6 juta dari 14.810 keping uang logam. Jumlah tersebut meningkat pada hari kedua menjadi sekitar Rp9 juta dari 21.309 keping.
“Pada hari Jumat terkumpul sekitar Rp6 juta dari 14.810 keping, dan pada hari Sabtu angka tersebut naik menjadi sekitar Rp9 juta dari 21.309 keping,” kata Faisal, Minggu (30/8/2026).
Menurutnya, pecahan yang paling banyak ditemukan adalah uang logam Rp500 dan Rp200. Namun, dari sisi jumlah keping, pecahan Rp500 menjadi yang paling dominan.
Sekali Tukar, Warga Bawa Koin Rp2,3 Juta
Antusiasme masyarakat dalam menukarkan uang logam juga menghadirkan cerita menarik. Salah seorang warga bahkan datang membawa beberapa kantong plastik berisi uang logam yang dikumpulkan dari tabungan celengan anak dan uang kembalian dari toko.
Total nilai uang logam yang dibawa warga tersebut mencapai sekitar Rp2,3 juta dalam sekali penukaran.
Faisal menyebut fenomena tersebut menunjukkan bahwa uang logam yang tersimpan di rumah sebenarnya masih memiliki nilai dan dapat kembali digunakan dalam aktivitas ekonomi.
Untuk menarik minat masyarakat, BI Solo juga memberikan apresiasi berupa minyak goreng kemasan satu liter bagi warga yang menukarkan minimal 100 keping uang logam, tanpa membatasi pecahannya.
Tingginya antusiasme warga membuat antrean penukaran mencapai 82 orang dalam dua hari pertama. Pada hari terakhir pelaksanaan, Minggu (30/8/2026), jumlah antrean juga tercatat lebih dari 60 orang.
BI Solo kemudian menambah kuota minyak goreng yang diberikan sebagai apresiasi. Dari semula 40 liter per hari, kuotanya ditingkatkan menjadi 60 liter per hari.
Koin Tak Sekadar Disimpan, tetapi Kembali Beredar
Faisal menjelaskan, uang logam yang dikumpulkan dari masyarakat tidak serta-merta berhenti di BI. Setelah diterima, uang tersebut akan disortir menggunakan mesin penghitung otomatis.
Uang logam yang masih dalam kondisi baik dan memenuhi kriteria Uang Layak Edar (ULE) akan kembali diedarkan melalui perbankan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, termasuk sebagai uang kembalian dalam transaksi perdagangan.
Sementara uang logam yang sudah rusak, cacat, atau mengalami oksidasi dan masuk kategori Uang Tidak Layak Edar (UTLE) akan ditarik dari peredaran dan diproses sesuai ketentuan Bank Indonesia.
Karena itu, masyarakat Soloraya diimbau tidak ragu menukarkan uang logam yang tersimpan di rumah maupun celengan.
Namun, Faisal mengingatkan terdapat kriteria tertentu dalam penukaran uang rusak. Uang logam yang mengalami kerusakan ekstrem, seperti terpotong atau kehilangan sebagian besar bagian, tidak dapat diganti apabila tidak memenuhi ketentuan teknis Bank Indonesia.
Syekaten Catat Omzet Rp10,3 Miliar
Di luar transaksi penukaran uang logam, gelaran yang diinisiasi Kantor Perwakilan BI Solo itu juga mencatat perputaran ekonomi yang cukup besar dari sektor UMKM.
Kepala KPw BI Solo, Dwiyanto Cahyo Sumirat, mengatakan transaksi langsung selama tiga hari pameran di Solo Square mencapai Rp520 juta. Sementara jika dihitung bersama omzet UMKM dalam rangkaian road to Sekaten 2026, nilainya mencapai Rp10,3 miliar.
“Alhamdulillah, total omzet transaksi langsung selama tiga hari pameran di Solo Square mencapai Rp520 juta. Sementara itu, jika diakumulasikan dengan total omzet UMKM pengisi booth di sepanjang rangkaian kegiatan road to Sekaten 2026, nilainya menembus Rp10,3 miliar,” ujar Dwiyanto saat penutupan, Minggu (30/8/2026).
Tak hanya transaksi, BI Solo juga mencatat jumlah pengunjung mencapai 23.100 orang selama rangkaian kegiatan. Sebanyak 31 UMKM syariah juga dipertemukan dengan lembaga pembiayaan syariah melalui business matching dengan nilai komitmen pembiayaan mencapai Rp1,3 miliar.
Ekonomi Syariah Butuh Kolaborasi
Dwiyanto menegaskan, capaian tersebut tidak boleh berhenti pada transaksi selama acara. Pengembangan ekonomi syariah membutuhkan ekosistem yang menghubungkan pelaku UMKM dengan pasar, pembiayaan, pesantren, perguruan tinggi hingga pemerintah.
“Ekonomi syariah itu tidak bisa kita jalankan sendiri, tapi kita harus berkolaborasi, kita harus bersama-sama membangun ekonomi syariah ke depannya,” kata Dwiyanto.
Menurutnya, Solo Raya memiliki modal cukup besar untuk mengembangkan ekonomi syariah. Selain keberadaan UMKM, ekosistem tersebut didukung pondok pesantren, perguruan tinggi, BAZNAS, Kementerian Agama, OJK, pemerintah daerah hingga pelaku usaha.
Karena itu, BI Solo juga mendorong penguatan ekosistem halal dari hulu hingga hilir. Salah satunya melalui fasilitasi sertifikasi halal bagi UMKM, sertifikasi juru sembelih halal dan rumah penyembelihan unggas, serta pengembangan wakaf produktif pesantren.
