Tim Sepak Bola CP Indonesia Targetkan Lolos Fase Grup IFCPF World Cup 2026
Solo – Tim sepak bola cerebral palsy (CP) Indonesia memasang target lolos dari fase grup dalam debutnya di IFCPF World Cup 2026. Indonesia tergabung di Grup C bersama Inggris, Jepang, dan Republik Irlandia.
Inggris menjadi lawan yang paling diwaspadai karena berada di jajaran lima besar dunia. Meski demikian, Jepang dan Republik Irlandia juga dinilai memiliki kekuatan yang tidak bisa diremehkan.
Pelatih tim sepak bola CP Indonesia, Yanuar Dhuma Ardhiyanto, mengatakan tim pelatih telah memetakan kekuatan calon lawan. Jepang bukan lawan yang asing karena Indonesia pernah berhadapan dengan mereka, sedangkan permainan Republik Irlandia masih terus dipelajari.
“Kita sudah memetakan tentang bagaimana bermain melawan mereka. Di Grup C yang paling berat itu Inggris karena mereka ada di peringkat lima besar dunia. Mereka yang paling kita waspadai. Untuk Jepang, kita sudah pernah melawan mereka. Irlandia sedang kami pelajari lebih dalam,” kata Dhuma, Kamis (23/7/2026) petang.
IFCPF World Cup 2026 dijadwalkan berlangsung di Atlanta, Amerika Serikat, mulai 14 Oktober 2026. Sebanyak 12 negara akan bersaing dalam tiga grup.
Dengan waktu lebih dari dua bulan sebelum turnamen, tim Indonesia mulai mematangkan persiapan melalui pemusatan latihan di kawasan Pusat Pelatihan Paralimpiade Indonesia (PPPI), Delingan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Sebanyak 27 pemain dipanggil untuk mengikuti pemusatan latihan tersebut. Dari jumlah itu, nantinya hanya 14 pemain yang akan didaftarkan untuk mengikuti pertandingan di Piala Dunia. Namun, tim pelatih berencana membawa lebih banyak pemain ke Amerika Serikat sebagai antisipasi apabila ada pemain yang mengalami cedera.
“Pemain yang didaftarkan ke World Cup itu ada 14 pemain, tetapi yang akan kita bawa ke Amerika lebih dari 14, sebagai antisipasi karena ada pemain yang sedang mengalami cedera,” tutur Dhuma.
Perkuat Komposisi Pemain
Komposisi pemain yang mengikuti pemusatan latihan disusun berdasarkan hasil evaluasi saat Indonesia tampil di IFCPF Asia Oceania Cup 2025 dan ASEAN Para Games 2025.
Tim pelatih juga memberikan perhatian lebih terhadap pemain dengan klasifikasi FT2 untuk memenuhi kebutuhan komposisi tim.
Dalam sepak bola cerebral palsy, pemain terbagi menjadi tiga klasifikasi, yakni FT3 untuk hambatan ringan, FT2 untuk hambatan sedang, dan FT1 untuk hambatan berat. Dalam pertandingan, setiap tim menurunkan tujuh pemain dengan komposisi satu pemain FT3, minimal satu pemain FT1, dan sisanya pemain FT2.
“Beberapa pemain baru yang kita panggil klasifikasinya sudah kita sesuaikan dengan kebutuhan tim. Pemain baru ini kebanyakan dari FT2, karena untuk FT3 sudah ada banyak pilihan. Ini cocok sekali dengan kebutuhan tim,” jelas Dhuma.
Persiapan fisik pemain juga telah dilakukan sejak dua bulan sebelumnya melalui program latihan berbasis pemantauan secara daring. Para pemain di daerah masing-masing diwajibkan mengirimkan video latihan kepada tim pelatih.
“Dari segi fisik, teman-teman datang ke sini dengan kondisi hampir siap karena kami memberikan program online monitoring selama dua bulan. Sekarang kita tinggal fokus di taktik dan teknis, walaupun fisiknya juga akan kita tingkatkan lagi karena ada beberapa yang kurang,” tutur Dhuma.
Dengan persiapan tersebut, Dhuma optimistis Indonesia mampu memberikan kejutan meski berstatus sebagai tim debutan.
“Tim-tim pesertanya luar biasa. Kita sebagai debutan, Insya Allah, dari peta kekuatan yang ada, akan kita usahakan lolos dari fase grup,” tegas Dhuma.
Kapten Optimistis Juara Grup
Kapten tim sepak bola CP Indonesia, Yahya Hernanda, bahkan memasang target lebih tinggi. Ia optimistis Indonesia mampu bersaing untuk menjadi juara Grup C setelah mempelajari permainan Inggris dan Republik Irlandia melalui rekaman pertandingan sebelumnya.
Menurut Yahya, gaya bermain Inggris dan Irlandia memiliki kemiripan dengan Australia yang mengandalkan kekuatan fisik dan postur tubuh. Namun, ia menilai Indonesia memiliki kualitas teknik yang tidak kalah.
“Saya sangat optimis bisa menjadi juara grup. Saya sudah melihat permainan lawan, karakteristik permainan Inggris dan Irlandia hampir sama dengan Australia. Mereka mengandalkan strength dan postur tubuh. Secara teknik kami tidak kalah dengan mereka,” ucap Yahya.
Yahya juga percaya diri menghadapi Jepang. Indonesia memiliki pengalaman positif setelah pernah mengalahkan Jepang di zona Asia Oceania.
“Kalau dengan Jepang, kami sudah pernah mengalahkan mereka di zona Asia Oceania. Jadi kami harus yakin bisa mengalahkan Jepang lagi,” lanjutnya.
Menurut Yahya, persaingan dalam pemusatan latihan di Delingan juga menjadi bagian penting untuk membentuk tim terbaik. Kehadiran sejumlah pemain baru membuat persaingan berjalan sehat sekaligus membuka peluang bagi tim untuk mendapatkan tambahan kekuatan.
“Seleksi ini sangat bagus agar ada persaingan yang sehat di antara para pemain. Terlihat semuanya sangat antusias. Ada pemain baru yang kualitasnya bagus, yang mungkin bisa melengkapi puzzle-puzzle dari tim sebelumnya,” jelas Yahya.
Dengan waktu persiapan yang tersisa, Yahya berharap para pemain mampu membangun chemistry dan kekompakan sebelum berangkat ke Amerika Serikat.
“Di waktu yang tersisa ini, kami berharap bisa membangun chemistry yang positif, bisa meningkatkan kualitas tim dan menjadi tim yang lebih solid lagi,” lanjutnya.
Selain Grup C, IFCPF World Cup 2026 juga mempertandingkan Grup A dan Grup B. Tuan rumah Amerika Serikat berada di Grup A bersama Belanda, Kanada, dan Skotlandia. Sementara Grup B dihuni Australia, Spanyol, Brasil, dan Chile.
